Rabu, 29 Oktober 2014

Bahagia Itu Sederhana Versi GUE

Kemarin adalah hari di mana gue ngebuktiin bahagia itu sederhana untuk yang kedua kalinya setelah yang pertama yaitu kumpul bareng dengan keluarga gue.
Hari di mana gue bisa ngeliat kamu lebih lama dari biasanya.
Hari di mana gue tabrakan dengan kamu.
Waw, spontan gue langsung teriak di depan teman gue dan entah ngapa gue air mata gue tiba-tiba jatuh membasahi pipi gue yang chubby ini, katanya sih.
Udah ah gue lagi bad mood hari ini.
Cerita seneng tapi saat kondisi hati lagi sedih gini, ahh.. it's something.
SECOND INTRODUCTION

Awalnya gue mau isi blog gue ini dengan kisah galau gue pakek bahasa Indonesia yang baik dan benar, terus gue mikir lagi.
Please gue udah cukup hidup kayak gini.
Di dunia nyata galau, masa di dunia maya juga galau sih?
So, gue bakal jadiin blog gue ini sebagai tempat curahan hati gue, tapi yang baik-baik aja ya.
Tapi kalo misalnya kalian nemu cerita dari gue yang sedih, itu berarti adalah saat di mana tangan dan hati gue serta pikiran gue gak sinkron. Titik.

Jumat, 24 Oktober 2014

Cerita 5
#WelcomeTheLastOfGalau!

Ahh... mata itu sangat dekat denganku hari ini.
Meski tak terlalu dekat, namun aku merasa sangat dekat.
Aku membicarakan betapa tampannya kamu saat bermain bola
Aku melihat ke arahmu tanpa berkedip sekali pun.
Berharap mata itu pun melakukan hal yang sama denganku.

Tiba-tiba saja, bola yang kau mainkan berlari ke arahku.
Kau tersenyum, meminta mengembalikan bola itu ke padamu.
Ah.. sumpah senyuman itu!
Aku berjalan kecil, perlahan mencoba tidak terlalu memperlihatkan gejolak yang ada di hatiku saat itu.
Aku merapatkan bibir, mencoba menahan teriakan ku karena ingin selalu memanggil namanya.
Aku melempar bola itu ke arahnya, lalu kamu pun dengan sigap mengambilnya.
Dan, kemudian kamu menatap ke arahku lalu tersenyum seraya mengucapkan terima kasih untukku.
Ahh.. kata-kata itu "Terima kasih, Dek."
Sungguh.. 
Tanpa disadari, air mataku tiba-tiba menyembul dari mataku tanpa meminta izin.
Entah ini adalah ungkapan kesedihan atau kebahagiaan.
Jika ini kesedihan, mungkin karena itu adalah kali pertama dan terakhir aku senyum dengan mendapat senyuman termanis darinya.
Jika ini kebahagiaan, mungkin karena kesempatan aku mampu menatap matamu lebih dalam.
Ahh.. sungguh! Aku menyukaimu!
Perkara kamu suka denganku atau tidak, itu nanti.
Perkara kamu mengenalku atau tidak, itu ya.. bisalah dipikirkan nanti.
Perkara kamu milik orang lain atau bukan, ya.. sebenarnya itu perkara sih.. tapi ya tak masalah lah.
Setiap orang berhak menyukai orang lain selama dia tidak merasa terganggu jika ada yang menyukainya. :)
Tuhan sampaikan sejuta salamku untuknya, terima kasih telah memperkenalkanku  dengn sesosok pria itu. Meski aku tak tahu aku mampu memilikinya atau tidak.
Cerita tentangmu, cerita sedih tentangmu, aku tutup sampai di sini.
Meski perasaan ini masih terus mengalir, aku ingin memberhentikan kisah sedih ku karena menyukaimu.

Cerita 4
#Mau buat sampek cerita lima aja deh, sudah cukup untuk galau nya hihi

Aku pikir kata orang kalau dunia itu sempit ada benarnya..
Aku pikir kata orang kalau pandangan pertama jadi cinta pertama, ada benarnya juga
Melangkah walau pun terlihat tidak menapak, aku tetap mencobanya.
Setiap melihatmu, rasanya begitu...
Aku seperti sedang mengunyah permen karet yang bewarna pink dan putih lalu menyembulkannya menjadi balon.
Setiap melihatmu, aku merasa bagaikan..
Bahkan langit tersenyum manis saat aku berbicara tentang dirimu dengannya.
Melodi dalam hati ini selalu terdengar merdu hanya dengan melirikmu.

Aku pikir dunia itu menyenangkan, selama ada dirimu.
Terima kasih untuk orang yang paling baik, karena telah melahirkanmu.
Mahluk terindah yang memberiku semangat untuk masuk sekolah paling pagi untuk melihatmu dengan headset putih itu.
Terima kasih, untuk nafas yang kau hembuskan meski aku tahu nafas itu bukan untukku.

Ahh.. aku tahu kemarin adalah hari ulang tahunmu.
Begitu gembiranya aku sampai rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya sambil menyebut namamu.
Ingin aku mengucapkan harapan-harapanku untukmu
Namun itu ternyata tak bisa.
Sudah terlalu banyak orang yang bersamamu.
Aku bagaikan debu yang menempel di rambutmu jika aku tetap ingin berada di sampingmu.
Menyelinap di barisan paling belakang saja susah,
Bagaimana untuk berada di barisan paling depan?
Ahh! Bagai pungguk merindukan bulan.
Hingga pada akhirnya, waktu dan takdir menggiringku untuk menempati posisi belakang dari yang paling belakang.
Meskipun seperti itu, entah mengapa aku masih bisa menatapmu.
Aku menyukaimu. Sungguh. Perasaan yang tak terduga namun mampu mengguncangkan dada.

Aku suka kamu, sungguh ku suka kamu
Aku ingin kamu jadi milikku
Aku suka kamu, sungguh ku suka kamu
Aku ingin kamu jadi pacarku

#Selamat ulang tahun buat kakak berkaca mata hitam yang selalu memakai headset di mana pun dan kapan pun, semoga makin kece ya kak :) Yang tambah rajin salatnya, belajarnya juga makin tekun. Semangat buat hubungan internasional UNPAD nya kak. Fighting!
*I'm always here although you don't know . It's okay, but sometimes it is hurting my heart hihi :')*

Kamis, 23 Oktober 2014

Cerita 3

Hari ini aku melihatmu dari jarak yang cukup jelas. Meski sinar mentari sempat mengacaukan penglihatannku, tetapi entah mengapa aku mampu menghalau semua dan aku menatapmu. Mata itu.. tetap sama. Tak berbeda. Menarik. Meski tak berbinar, namun melukiskan pelangi di antara awan. Meski tak berbentuk sempurna, namun tatapan tersorot bagai kamera. Aku tak percaya saat temanku mengatakan bahwa kamu adalah idola sekolah ini, yang paling banyak memiliki fans.

Bukannya begitu, jujur saja sebenarnya ada yang jauh lebih tampan dan keren dibanding kamu, tetapi kenapa itu harus kamu? Kenapa harus kamu, orang yang aku suka? Entahlah, aku pikir menyukaimu adalah suatu kesalahan.

Tapi jujur... selama aku bernafas kurang lebih 15 tahun ini, aku belum pernah mencintai seseorang. Mencintai adalah hal yang tersulit bagiku. Aku hanya pernah menyukai. Menyukai beberapa yang tak sempat aku miliki. Saat aku terbang dengan perasaan itu, selalu saja ada yang menjatuhkanku, entah itu aku ditembak, didorong, atau pun yang lain.

Karena itu, jujur aku berkata.. aku tak pernah tulus mencintai atau menyukai seseorang. Sebenarnya ada perbedaan antara cinta dan suka, menurutku. Namun pengertian cinta sebenarnya juga suka. Cinta adalah bagaimana kita mengetahui secara dalam tentangnya. Suka adalah bagaimana kita mengetahui dia hanya setengahnya.

Aku sebenarnya ingin menyatakan perasaanku. Tapi apa nanti reaksi darimu?
Kak, aku suka sama kakak. Kakak mau gak jadi pacarku?
Atau hal yang lebih agresif lagi..
Kak, nikah yuk?

Please, it can't be like that. It can't be over like this. 

Cinta atau suka? Bukankah sama saja? Sayang atau nyaman? Bukankah keduanya serupa? Lalu.. benci dan cinta? Apakah mereka berarti berbeda? 

Selasa, 21 Oktober 2014

Cerita 2
Aku mendengar banyak berita tentangmu dari temanku. Tak sengaja di ruangan itu aku terus menatapmu. Menatap mata yang tak pernah menatap mata ini. Bahkan, desah nafasmu.. aku mampu merasakannya. Menyukai diam-diam lebih menyakitkan dibandingkan dengan menyatakan cinta namun ditolak. Sungguh.

Jika mata ini salah memandang, apa sebenarnya dirimu?
Jika memang benar desah nafas kita tak lagi sama, siapakah yang harus disalahkan?
Jika alunan cinta yang terkubur dalam lidah tetap tak bergeming,
Bagaimana aku mampu menyatukan noktah di bawah tajam sorotan matamu?
Jika air di bawah mata selalu mengembun di pipi, 
Haruskah aku meminta orang lain untuk mengubahnya menjadi uap?
Jika helaian rambutmu yang termakan zaman terjatuh di lantai kesunyian,
Haruskah aku datang dan mengumpulkannya?
Jika debar ini bukan cinta,
Lalu semangat hidup tanpa nyawa ini berarti apa?
Jika yang kau lihat adalah dirimu,
Bagaimana aku dilihat olehmu?
Jika bayang-bayangmu adalah mataku,
Bagaimana mungkin bayangku adalah punggungmu?
Jika cintaku berarti ambisi buram yang tak berhaluan,
Segankah dirimu tetap berdiri di ujung jalan itu dan menutup mata untuk menungguku?

Aku pun hanya menundukkan kepala jika kau bertanya mengapa aku menyukaimu. Aku pun tak tahu persis bagaimana keadaan itu bisa terjadi. Hanya yang aku tahu adalah.. aku menyukaimu. Gayamu yang berantakan, dengan menggunakan headset itu, sungguh membuat jantungku seakan berhenti berdegup. Harmoni cinta mengalir begitu saja. Cinta atau suka?


Minggu, 19 Oktober 2014

Cerita 1



Aku merasa hidupku semakin lama semakin tergerus.
Menguap tak berbekas.
Semakin lama semakin hilang tak diperhatikan.
Hatiku telah hancur.
Jiwaku mulai goyah.
Terpuruk dalam suatu keadaan yang paling aku benci.
Aku ingin mengelak dari semua ini.
Tetapi, mengapa melakukan itu begitu sulit?
Aku tidak pernah menganggap suatu kebetulan adalah kehidupan, aku hanya menganggap takdir yang menjadi kehidupan.
Lalu, apakah ini semua adalah takdir?
Takdir yang membuat hidupku seakan semakin rapuh dan goyah?

Di bawah sinar lampu itu, aku menatap diriku sendiri. Mencari arti perih yang penuh sesak di antara jeritan jiwa yang goyah akan kesetiaan. Menahan air mata mengembun di ke dua pipi, aku menatapnya. Masih. Aku menatapnya. Setidaknya, sampai detik ini. Sampai di mana nafasku masih berlafal namanya. Sampai di mana bibirku penuh dengan lantunan tentangnya. Masih.
First introduction-

Ini pertama kalinya gue masuk SMA, wow it's wonderful! Sekolahnya bagus dan pasti.. banyak kakak ganteng di sana. Haha. kenalin dulu geh, ini gue Nabilla. Di sini gue akan mempost cerita, selebihnya cerita tentang gue dan sekurangnya gue lebih-lebihin dikit lah. hehe.
Happy reading!

Sabtu, 18 Oktober 2014

First cerpen

Pertama kalinya nih ngepost cerpen gue :) First impression banget hahay



LEWAT KALIMAT FAJAR
 Aroma mawar semerbak. Kabut-kabut menghilang di antara pepohonan. Sinar mentari menjilati sisa-sisa air yang menempel pada dedaunan. Asap kendaraan perlahan mulai mencampuri embusan angin segar nan sejuk ini, membuat atmosfer terasa penuh sesak dengan kesibukan para insan.
 Lala menyusuri koridor sekolah, berjalan dengan kepala merunduk serupa daun layu. Tubuhnya terasa seperti diambang hidup dan mati. Perlahan makin banyak peluh yang keluar dari pori-pori kulitnya. Sesaat sampai di depan perpustakaan, seseorang dengan kacamata hitam datang menghampirinya dengan senyum mengembang.
“Lala, selamat ya! Kamu masuk ke kelas Study Club lagi”, ucap orang itu.
“Oh, Tika. Iya. Thanks buat ucapannya”, jawab Lala pelan.
“Hmm. Kamu masuk kelas Study Club lagi, rasanya aku benar-benar iri sama kamu”, kata Tika.
“Hmm. Aku pergi dulu ya”, jawab Lala sambil menahan rasa sakit yang menggeluti tubuhnya itu.
Perlahan Lala berjalan menuju kelas yang sama sekali tidak ingin ia datangi. Ya, Lala sebenarnya tak pernah ingin masuk ke kelas itu. Kelas di mana hanya tersumpal dengan rasa egois dan tidak ada kata pertemanan di dalamnya. Kelas yang hanya terisikan dua puluh siswa peraih nilai ujian sekolah tertinggi di sekolah itu. Sudah setahun Lala ada di kelas itu. Sampai di depan pintu kelas Study Club, tubuh Lala terasa sudah tidak kuat lagi. Peluhnya semakin bercucuran tak keruan. Kepalanya benar-benar sakit.
“Ahh”, Lala tiba-tiba jatuh tak berdaya di depan pintu kelas itu.
Tidak ada yang memerhatikannya. Sayup-sayup Lala hanya melihat teman sekelilingnya hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ada yang peduli dengan Lala. Tapi sesaat, seseorang dengan rambut tertata rapi dan gigi berpagar behel berwarna hitam datang menghampiri Lala dengan wajah khawatir.
“Kamu enggak apa-apa?”, tanyanya pelan.
Mata Lala perlahan mengarah ke arahnya. Tetapi, penglihatannya terasa kabur.
“Ehm, bisa enggak.. kamu..”, Lala sulit sekali untuk mengucapkan sebuah kalimat.
“Ayo, aku antarkan kamu ke UKS”, ajak seseorang dengan badan agak tinggi itu.
Lala tak menjawabnya. Lala hanya mengikuti ajakannya.
“Malaikat”, ucap Lala dalam hati tentang seseorang yang menolongnya itu.
-----
 Lala mencoba membuka matanya. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggantung di pelupuk matanya, sehingga terasa susah sekali untuk membuka kedua matanya.
“Eh, kamu sudah bangun?”, tiba-tiba seorang guru datang menghampiri Lala.
“Iya, Bu Dona”, jawab Lala pelan.
“kamu cuma kecapekan saja. Makan yang teratur dan banyak istirahat”, kata Bu Dona.
“Ahh.. benarkah, Bu? Syukurlah. Padahal aku ngerasa seperti aku akan mati”, gumam Lala.
“Bu, aku mau kembali ke kelas. Terima kasih,Bu”, ucap Lala.
    Bu Dona hanya tersenyum sambil membiarkan tangannya dicium oleh Lala sekadar sebagai tanda perpisahan.
-------
“Ahh. Obat apa yang diberikan itu ya? Aku merasa sudah sehat sekarang. Eh, tapi siapa ya yang bawa aku ke UKS?”, gumam Lala bertanya-tanya.
 Lala berjalan menuju kelas. Sampai di depan pintu kelas, ia memberhentikan langkah kakinya. Dihirupnya aroma yang menyelimuti kelas itu. Lala sudah merasakan sebelumnya. Lala membuka pintu kelas itu. Lala melihat sekelilingnya. Heningnya kelas itu seperti menggigit gesekan meja dan lantai. Seriusnya wajah setiap siswa seperti menyibak suara bising yang ingin didengar Lala layaknya kelas siswa SMA seperti biasanya. Tak ada bau aroma kapur papan tulis, hanya dinginnya AC yang menyesakkan kelas itu. Lala berjalan menuju kursinya.
“Sebaiknya kamu jangan mengganggu kesunyian kelas ini”, ucap seseorang yang duduk di samping bangku Lala.
 “Daniel?”, Tanya Lala.
“Jaga mulutmu agar tetap diam”, jawab Daniel tanpa melihat ke arah Lala.
Tak ada kata yang terucap dari mulut Lala sekadar  merespon dinginnya ucapan Daniel. Lala sudah 1 tahun sekelas dengan Daniel, jadi Lala sudah cukup tahu seperti apa Daniel.
“Ahh.. benar-benar orang ini”, gerutu Lala pelan.
-----
Bel pulang sekolah berbunyi. Perlahan suara nyaring dering bel itu seakan menggelitiki gendang telinga Lala. Lala mencoba mengusap kedua matanya, mengusir sisa-sisa lelap yang masih menggantung di matanya.
“Kelas ini selalu pulang lebih cepat dari kelas-kelas lain. Tak ada larangan di kelas ini, bahkan enggak ada yang membangunkanku saat aku tidur. Ini mudah seperti yang aku pikirkan”, gumam Lala.
Ternyata Lala tidak sendirian di kelas itu, ada seseorang yang duduk di samping bangkunya. Seseorang dengan wajah serius tengah membaca buku yang dipegangnya.
“Daniel?”, sapa Lala menghampirinya.
Daniel tak merespon sapaan Lala.
 “Ahh. Benar-benar. Gimana caranya untuk menyelesaikan soal ini?”, gerutu Daniel.
“Sini aku bantu”, kata Lala.
 Lala langsung meraih pena yang ada di tangan Daniel.
“Memangnya ada yang menyuruh kamu untuk membantuku?”, ucap Daniel sinis.
“Apa?”, Tanya lala dengan wajah datar.
Daniel tak menjawabnya bahkan Daniel memalingkan wajahnya dari Lala. Lala benar-benar merasa kesal.
“Benar-benar menyebalkan”, pikir Lala dalam hati.
 Karena kesal, Lala meninggalkan Daniel sendirian di kelas. Bersama di kelas dengan orang yang sinis seperti Daniel, rasanya membuat dada Lala seperti sesak.
-----
Hari ini, sang mentari seperti enggan untuk bangun. Gumpalan-gumpalan hitam berlarian menenggelamkan awan putih. Langit menghamparkan warna hitam pekat. Bumi seperti menggigil dalam dingin. Tak berselang lama, gerimsi tiris mulai berkelahi dengan atap kelas Study Club itu.
“Hmm”, desah Lala sambil memandangi rinai hujan yang turun.
Tiba-tiba Pak Doni masuk ke kelas dengan membawa tumpukan kertas di tangannya. Membuat semua siswa bangun dari kesibukannya masing-masing.
“Pagi semua. Bapak ingin memberitahu hasil TO minggu lalu”, jelas Pak Doni.
Semua siswa merasa gugup.
“Nilai TO tertinggi ke dua adalah Daniel dan nilai TO tertinggi pertama di kelas ini adalah Lala, lagi”, ucap Pak Doni.
Daniel memandang Lala dengan tatapan sengit. Lala tak memperdulikan tatapan dingin Daniel.
“Baik, anak-anak. Hari ini Bapak akan mengadakan tes ingatan kalian tentang pelajaran yang kemarin. Masukkan semua buku kalian ke dalam tas”, pinta Pak Doni.
Tak ada keluh kesah yang terdengar di kelas itu. Semua mengikuti perintah Pak Doni tanpa ada desahan sedikit pun.
-----
Bel istirahat berbunyi. Lala menghela nafas panjang. Tiba-tiba, dengan wajah penuh kebencian Daniel menghampiri meja Lala.
“Kamu menyebalkan”, ucap Daniel dengan wajah datar.
Lala yang sejak kemarin merasa kesal dengan sikap Daniel, ia pun menjawab dengan nada agak tinggi.
“Ya memang benar. Aku menyebalkan. Hey Daniel, aku kira kamu itu orang yang pintar, ternyata aku salah. Bahkan, kamu enggak pantes ada di kelas ini”, sahut Lala geram.
Daniel mengepalkan tangannya. Rasanya seperti ada sesuatu yang mencabik hatinya. Akhirnya Daniel pergi meninggalkan Lala dengan rasa kesal. Selama ini, Daniel selalu menganggap Lala sebagai saingannya. Jadi, bukan hal yang aneh kalau Daniel sangat membenci Lala.
------
Bel pulang sekolah berbunyi. Lala berjalan keluar dari kelas untuk pulang. Sampai di depan perpustakaan, Lala bertemu dengan Pak Doni.
“Siang Pak”, sapa Lala.
“Ahh.. Siang, Lala. La, kamu bisa bantu Bapak?”, pinta Pak Doni.
“Apa, Pak?”, Tanya Lala penasaran.
“Tolong kamu cari beberapa buku di perpustakaan untuk Bapak jadikan referensi tentang materi aljabar”, kata Pak Doni.
“Baik,Pak”, jawab Lala.
Lala langsung melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Dicarinya buku tentang aljabar oleh Lala.
“Ahh.. Ini dia”, ucap Lala dengan senyum mengembang.
Lala langsung mengambil bukunya dan berjalan pergi dari perpustakaan untuk memberikan buku itu ke Pak Doni. Tetapi, tiba-tiba Lala mendengar sesuatu. Lala mencoba mendekati sumber suara itu. Lala terus mencarinya, ia merasa semakin dekat dengan sumber suaranya.
“Siapa itu?”, ucap Lala lirih.
Lala melihat seseorang yang tengah duduk bersimpuh dengan kepala menunduk dikelilingi buku-buku yang berserakan. Wajahnya basah bermandi bola-bola air dari matanya. Lala merasa takut untuk mendekati orang tersebut. Tapi, sesaat orang itu berbicara sesuatu.
“Apa? Enggak pintar? Enggak pantes?”, ucap orang itu.
Lala seperti mengenal suara itu.
“Daniel?”, ucap Lala.
Lala memberanikan diri mendekatinya.
“Dan... Daniel?”, sapa Lala pelan.
Daniel terkejut. Matanya yang merah menatap tajam Lala. Daniel berdiri dan mendekati Lala. Daniel berdiri tepat di depan Lala, membuat Lala merasa takut.
“Kenapa, Dan.. Daniel?”, ucap Lala.
“aku.. sangat susah untuk masuk kelas itu. Aku.. harus meninggalkan apa yang tidak ingin aku tinggalkan. Melakukan apa yang enggak mau aku lakukan. Dan, aku berjalan seperti aku ingin menemukan sesuatu padahal aku enggak tahu apa yang sebenarnya ingin aku temukan”, ucap Daniel dengan suara yang getir.
Lala tetap lesap dalam diam.
 “Apa pintar itu takdir?”, Tanya Daniel tiba-tiba.
“Daniel..”, jawab Lala dengan suara pelan.
 “Apakah menjadi seorang seperti aku itu takdir? Pintar itu takdir? Tak peduli matahari tepat berada di atas ubun-ubun, tak menggubris suara perut yang keroncongan, aku tetap tidak bergeming. Tidur terlambat di antara yang lainnya, tak peduli dingin menggurat tubuh, tak memandang kejora yang sudah tenggelam, aku tetap bertarung dengan buku-buku di antara suara jangkrik setiap malam.. Kalau seperti ini, apa kamu masih berpikir bahwa pintar itu takdir?”, Tanya Daniel.
“Daniel, kamu kenapa?”, ucap Lala dengan nada khawatir.
Daniel tidak menjawabnya. Daniel justru menangis. Daniel meletakkan kepalanya di bahu Lala. Lala terkejut. Lala hanya menepuk-nepuk bahu Daniel sekadar menenangkan perasaan Daniel yang sedang kacau.
“Maaf”, ucap Lala pelan.
Daniel mengangkat kepalanya.
“Maksudmu?”, Tanya Daniel penasaran.
“Melihat kamu selalu pulang paling telat dari yang lain, selalu pergi ke perpustakaan di jam istirahat, aku tahu apa yang kamu rasain. Tapi, apa dengan seperti itu kamu harus memiliki apa yang kamu mau?”, kata Lala.
 “Apa? ”, sahut Daniel.
Lala diam sejenak.
“Aku ingin sepertimu. Menjadi siswa paling pintar di sekolah dan dikenal sebagai orang yang baik dan ramah. Aku iri”, ucap Daniel.
 “Tapi ternyata aku salah. Kamu lebih mengerikan dari yang apa yang orang tahu tentang kamu”, ucap Daniel.
“Apa? Hey!”, sahut Lala dengan nada agak keras.
“Kenapa? Salah?”, jawab Daniel.
Tanpa mendengar jawaban Lala, Daniel pergi meninggalkan Lala.
“Hey! Kamu nyebelin banget sih. Ambisius, egois, sombong, arghh!”, teriak Lala.
Daniel memberhentikan langkah kakinya. Ia membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Lala lagi.
“Apa? Kenapa?”, ucap Lala.
“Aku menyesal sudah menolong kamu”, jawab Daniel seraya beranjak pergi.
“Apa maksudnya? Kapan dia pernah nolong aku? Huh!”, ucap Lala  dalam hati.
“Daniel! Bukan berarti kalau kamu sudah bekerja keras mendapatkan sesuatu maka kamu harus mendapatkannya”, teriak Lala kepada Daniel.
“Hmm”, gumam Daniel yang tetap berjalan meninggalkan Lala tanpa menjawab atau menengok ke arah Lala.
-----
Sang mentari perlahan tergelincir di ufuk timur. Rerumputan masih terlihat basah karena bermandi embun. Hari ini, langit menghamparkan warna biru yang sangat indah.
“La, kok masih pagi sudah ngelamun sih?”, tanya Pak Doni mengacaukan lamunan Lala.
“Oh, Bapak. Enggak kok, Pak”, jawab Lala mengelak.
Pak Doni hanya tersenyum.
Mungkin benar kata Pak Doni, Lala memang sering melamun akhir-akhir ini. Lala juga tidak tahu. Sudah seminggu ini, Daniel tidak masuk. Sebenarnya, Lala khawatir kalau kata-katanya waktu itu membuat Daniel tidak mau bertemu Lala sehingga Daniel tidak masuk sekolah.
“Ish, mana mungkin”, pikir Lala lagi.
“Baiklah, selamat pagi”, sapa Pak Doni ramah.
“Pagi”, jawab Lala dan teman-teman sekelas serentak.
“Anak-anak, jangan lupa minggu depan kita akan menghadapi ujian akhir semester. Tingkatkan belajar kalian”, ucap Pak Doni.
“Ahh, di mana Daniel ini? Seminggu lagi akan ujian akhir semester”, gumam Lala khawatir.
-----
Hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester. Hari ini, hanya berbalut gumpalan awan putih yang menghiasi langit biru. Sang mentari pun rasanya seperti tak tertarik untuk memberikan sinarnya sekadar menghangatkan bumi.
“Lala, apa kamu tahu di mana Daniel?”, tanya Pak Doni kepada Lala yang tengah duduk di kelas selagi menunggu bel ujian dimulai.
“Ehm, enggak, Pak”, jawab Lala pelan.
Lala semakin khawatir, sebenarnya apa yang terjadi dengan Daniel.
“Ahh, aku tahu Daniel bukan orang yang mudah menyerah seperti ini. Pasti dia datang hari ini”, ucap Lala menenangkan diri.
“Hey”, tiba-tiba seseorang datang menghampiri dan menyapa Lala.
Kepala Lala langsung mendongak.
“Oh? Daniel?”, ucap Lala kaget.
“Hmm. Terima kasih”, kata Daniel sembari senyum.
Lala tidak menjawab. Lala mengerutkan kedua alisnya, penasaran apa maksud Daniel berterima kasih.
“Kamu benar. Aku egois, ambisius, dan sombong. Kamu benar. Tapi, aku.. mencoba untuk berteman dengan otakku sekarang”, ucap Daniel.
Lala tersenyum. Daniel yang selama ini adalah orang yang dingin, sekarang tersenyum dengan lepas.
“Ahh, syukurlah. Iya sama-sama”, ucap Lala sambil tersenyum manis.
“Haish, kenapa aku bisa dengerin omongan gadis yang bawel kayak kamu ya?”, ledek Daniel.
Lala memasang wajah geram. Rasanya Lala ingin menjitak kepala Daniel.
“Eh tapi, maksud omongan kamu waktu itu apa?”, tanya Lala tiba-tiba.
“Apa?”, tanya Daniel sambil mengerutkan alis.
“Kamu bilang kalau kamu nyesel sudah menolong aku? Emang kapan?”, tambah Lala.
“Ahh, sebenarnya yang ngebawa kamu ke UKS itu.. aku”, kata Daniel.
“Hah? Benarkah?”, jawab Lala kaget dengan mulut menganga.
“Kenapa? Apa kamu enggak percaya?” , tanya Daniel.
“Hmm. Aku cuma bingung. Gimana bisa sifat malaikat dan evil bersatu dalam satu tubuh?”, jawab Lala sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Apa? Hey!”, sahut Daniel.
Sontak Lala langsung berlari. Daniel yang tidak terima langsung berusaha mengejar Lala.
“Hey, seharusnya kamu bilang terima kasih”, ucap Daniel seraya mengejar Lala.
“Terima kasih, Lala. Mungkin kalau enggak ada kamu, aku akan selalu menjadi debu yang akan pindah bila ditiup angin. Tapi, sekarang aku merasa aku adalah angin yang dapat menerbangkan debu. Terima kasih”, ucap Daniel dalam hati.
“Aku seneng ngeliat kamu senyum lepas kayak gini, Daniel”, ungkap Lala dalam hati.
-SELESAI-