Aku
merasa hidupku semakin lama semakin tergerus.
Menguap
tak berbekas.
Semakin
lama semakin hilang tak diperhatikan.
Hatiku
telah hancur.
Jiwaku
mulai goyah.
Terpuruk
dalam suatu keadaan yang paling aku benci.
Aku
ingin mengelak dari semua ini.
Tetapi,
mengapa melakukan itu begitu sulit?
Aku
tidak pernah menganggap suatu kebetulan adalah kehidupan, aku hanya menganggap
takdir yang menjadi kehidupan.
Lalu,
apakah ini semua adalah takdir?
Takdir
yang membuat hidupku seakan semakin rapuh dan goyah?
Di bawah sinar lampu itu, aku menatap diriku sendiri. Mencari arti perih yang penuh sesak di antara jeritan jiwa yang goyah akan kesetiaan. Menahan air mata mengembun di ke dua pipi, aku menatapnya. Masih. Aku menatapnya. Setidaknya, sampai detik ini. Sampai di mana nafasku masih berlafal namanya. Sampai di mana bibirku penuh dengan lantunan tentangnya. Masih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar