Sabtu, 13 Juni 2015

Assalamualaikum Wr. Wb.
  
Hey, Guys! How's life? wkwk ciyee malem minggu :v ciyee yang galau gak punya pacar, ciyee yang galau gara-gara rapot udah kayak api.. merah semua isinya wkwk, ciyee yang nilai UN nya cuma beda koma. Haha :v

Udahh lupain aja #segek haha. Tonight, aseekk. Malem ini gue ngepost cerpen gue lagi nih. Yahh.. sebagai penghibur aja sih sapa tau nti lo orang jadi mood lagi gituu secara gue ini moodbooster ._. udah lupain. Langsung ajaa yaps!






SIMFONI KELABU
Dunia itu tidak adil. Kalimat itu merupakan kalimat yang sering terlontar dari mulut sebagian manusia yang merasakan keterpurukan dalam kenangan dan harapannya. Sebagian manusia itu selalu merasa sepi dalam dunia yang penuh sesak dengan ilusi ini. Hingga pada akhirnya, sebagian manusia memutuskan untuk menghilang. Menghilang tanpa ada satu orang pun yang tahu. Menghilang tanpa ada satu orang pun yang merasa kehilangan.
Aku berdiri kaku di depan kelas sendirian sambil menyaksikan panorama rinai hujan yang turun bercampur dengan kesiur angin. Dari pada menanggung teguran dari Bu Ratmi guru BK ku karena seragam yang dipakai berbeda dengan aturan yang telah ditetapkan dengan alasan seragamnya basah terkena hujan, lebih baik aku menunggu hujan reda.
Bisa saja aku menunggu hujan reda di dalam kelas, tetapi aku tak mau. Bukan karena aku takut atau karena kelas yang kotor ulah teman-temanku yang bermain kertas saat jam kosong itu, aku hanya tidak suka sendirian di dalam ruangan. Keadaan yang seperti itu akan membuatku berlagu tentang kenangan-kenangan itu.
Bukan kenangan tentang seseorang yang pernah kusukai, karena aku tidak pernah menyukai seseorang. Bukan juga kenangan tentang masa-masa kebersamaanku dengan sahabat, aku tak pernah mempunyai hubungan sedekat itu dengan orang lain. Hanya, itu adalah kenangan yang seakan membuat hatiku berteriak merintih sehingga aku menjadi seorang penyendiri yang enggan bergaul dengan orang lain sekarang.
Aku berjalan maju beberapa langkah. Tanganku menengadah mencoba menahan beberapa butir air yang terjun dari atap kelas itu. Sesekali aku berdehem melihat fenomena itu sambil mata mengerjap-ngerjap karena terkena desauan angin. Kemudian, aku mencoba menatap langit. Sungguh kelabu warnanya pikirku. Apa mungkin langit sedang bersedih? Apa mungkin gemuruh ini tanda bahwa langit sedang berontak? Apa hujan yang turun ini adalah air mata lelahnya?
“Hey!”, tiba-tiba ada seseorang yang menepukku dari belakang dan membuat jantungku seakan melonjak dari tempat tidurnya.
Segera aku menarik tanganku dari luncuran-luncuran air itu. Aku menoleh ke belakang. Sudah terdapat sosok yang menatapku dengan senyum yang lebar itu. Matanya yang bewarna coklat, rambutnya yang hitam dengan potongan gaya anak remaja gaul zaman sekarang, dan tubuhnya yang berpostur tinggi, sehingganya aku harus sedikit mendongak jika ingin melihat wajahnya.
“Kok sendirian sih? Nunggu hujan reda ya?”, tanyanya.
“Iya.”, jawabku singkat seraya berusaha mengulas senyum di wajahku.
“Eh, agak ke sini. Nanti kena hujan.”, ujarnya dengan tangannya langsung sigap menarik tanganku. Jadilah aku berdiri tepat di sampingnya.
“Kenapa belum pulang, Nar?”, tanyaku kepadanya berusaha menjalin kembali obrolan kami dan melupakan kejadian yang membuat bibirku kaku tadi.
“Belum. Dari tadi di perpustakaan. Bukan baca buku sih, cuma numpang tidur doang. Hehe.”, ucapnya yang seakan menghidupkan obrolan kami.
Kemudian suasana hening. Sekian lama kami kalut dalam keadaan diam. Mulut kami tetap rapat terkancing tak bergeming. Sesekali kami hanya beradu pandang lalu mengalihkannya ke deraian air hujan yang sepertinya turun semakin deras. Sepertinya Danar menikmati masa-masa menunggu seperti ini. Mungkin karena ada alunan musik dari headphone yang ia pasang di telinganya, atau mungkin karena ada aku di sampingnya?
Ahh mimpi saja aku, gumamku dalam hati.
“Apa kamu enggak bosan menunggu seperti ini?”, pertanyaannya memecah hening di antara kami. Suaranya terdengar sedikit parau.
“Tidak. Aku suka menunggu.”, jawabku dengan yakin.
“Ahh.. padahal kebanyakan orang enggak suka menunggu.”, tambah Danar sambil melihat ke arahku.
“Memang membosankan sih, tapi ada keyakinan dalam diriku bahwa dengan menunggu kita akan mendapat jawaban yang indah.”, tambahku tak mau kalah.
“Filosofi yang bagus.”, ucap Danar seperti mengiyakan jawabanku.
Aku hanya tersenyum, begitu pun Danar. Sepertinya waktu kami habis hanya untuk saling tersenyum begini saja. Tak apalah pikirku. Kemudian aku memalingkan wajahku ke arah awan yang dibelenggu warna hitam. Tiba-tiba, Danar memasangkan headphone nya ke telingaku. Membuatku harus menatapnya. Lagi. Membuatku harus mendongak demi melihat matanya yang berkantung hitam itu. Sepertinya ia kurang tidur akhir-akhir ini.
Aku diam saja. Aku pikir ia ingin memperdengarkan sebuah lagu ke gendang telingaku. Ternyata aku salah, tak ada alunan melodi di headphone itu. Hanya ada suara gemersik angin yang menggelitiki telingaku.
“Enggak ada musiknya gini?”, ucapku keheranan.
Sekali lagi, Danar memasang senyum di wajahnya seperti tak kenal lelah, mungkin sekalian sebagai senam mulut pikirnya.
“Memang enggak ada. Itu aku berikan untukmu.”, jawab Danar.
“Untuk apa? Aku tak suka mendengarkan lagu.”, tukasku sambil mengembalikan benda itu kepada Danar.
“Benda ini berguna untukmu untuk kamu berlari.”, tambah Danar lagi.
Aku menatap mata Danar. Lagi. Meraba-raba jawaban atas kebingunganku terhadap perkataan Danar.
“Cukup untuk menunggu. Sekarang waktumu berlari. Berlarilah untuk menemui apa yang kamu nantikan selama ini. Dapatkanlah dan jangan biarkan ia lepas. Pura-pura tidak mendengar cemoohan orang lain. Ya dengan ini.”, tambah Danar seraya memasangkan kembali headphone itu di telingaku.
Ucapan yang cukup membuatku tercekat. Pikiran berkecamuk di dalam benak, nanar tentang asa mulai terlihat dari mataku.
“Yah.. aku memang tidak terlalu dekat denganmu. Tapi yah.. kau harus tahu.. bahwa aku ini seperti.. entah mengapa aku seperti bisa memasuki ruang hati seseorang yang tertutup rapat dan jarang tersentuh itu. Tak terkecuali kamu. Aku melihat sepertinya kamu yang sekarang ini bukan kamu yang sebenarnya.”, kata Danar mencoba memberikan petunjuk agar aku bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang ia bicarakan.
Aku seperti tersandar terhadap dinding yang dingin kemudian tiba-tiba menjadi hangat tanpa alasan. Mataku berpendar. Angin dingin menyelimuti tubuhku.
“Nab, aku tahu kamu kuat kok. Aku memang enggak tahu persis masalah kamu itu apa, tapi ya.. intinya aku mau memberi tahu kamu bahwa.. kamu itu kuat lebih dari yang kamu bayangkan.”, ucap Danar dengan ke dua tangannya memegang erat bahuku.
Sekarang kami semakin dekat saja. Kami saling berhadapan.
“Nabilla! Nabilla! Nab…”, dari jauh terdengar teriakan namaku secara bergantian.
Aku membalikkan tubuhku dan mencari-cari asal suara itu. Terdapat 4 sekawanan yang berlarian di tengah hujan. Mereka seakan tak peduli dengan kemarahan Bu Ratmi nanti karena seragam yang mereka pakai sudah basah kuyup. Sesekali mereka melompat-lompat sambil bermain air yang turun dari langit itu. Mereka berhenti di hadapanku. Dengan nafas yang tersengal mereka menarik dan membiarkan tubuhku yang hangat menjadi dingin karena tertikam jarum-jarum air itu.
Aku sudah mengingatkan berkali-kali bahwa baju ini akan dipakai lagi besok, tetapi mereka tak mengindahkan perkataanku. Yasudahlah pikirku. Saat aku akhirnya terbuai suasana bersama mereka, aku melupakan sesuatu.
 “Kenapa?”, wajah Danar terlihat kaget melihatku berlari mendekatinya.
“Nih. Jagain ya. Tapi ingat, ini punyaku sekarang.”, ucapku sambil tersenyum seraya memasangkan headphone yang terpatri di kepalaku ke kepala Danar.
Aku berlari menemui mereka lagi. Kami berpelukan dan kami bercanda bersama. Kejadian ini membuatku berteman baik dengan hujan sekarang, aku tak sungkan berbagi cerita tentang nyanyian burung pipit yang kudengar setiap pagi kepadanya.
Ahh, aku hampir lupa. Aku ingin meralat ucapanku sebelumnya. Aku punya sahabat! Iya. Mereka yang bercanda bersamaku saat hujan itu, yang menjadi kekuatanku untuk mengenal dunia lebih dalam. Dan.. aku mempunyai seseorang yang aku sukai sekarang. Seseorang yang telah menyarankanku untuk tak selalu menunggu hujan reda, namun sesekali mencoba menerjangnya. Bukan dengan melawannya, melainkan dengan berbagi rasa bersamanya.
-SELESAI-


Hey, Guys! Dapet pelajaran gak dari cerpen gue? :D haha segek aja deng sebenernya wkwk. Cuma mau ngasih tau aja deh, mungkin juga kalian sering ngedenger kata-kata ini.
Kalo kata Om Mario nih, Guys. Jangan nunggu hujan reda, terjang aje. Kalo perlu menari di antara hujan, menarilah. Selagi bisa. Selagi kamu mampu melakukannya. Karena akan ada saat di mana kamu ingin melakukannya namun kamu sudah tidak bisa melakukannya. Ngerti kan, Guys? Oke selamat bergalau ria lagii wkwk
Bhayy! See you next time, Guys! Luff luff wkwk

Sabtu, 30 Mei 2015


CERPEN! 
 
Hai, Guys! Apa kabar? Haha. Akhirnya gue masih bisa muncul lagi setelah berjuang keras melawan soal soal sulfur yang bercrustacea kemudian harus dibuat grafiknya dengan berbagai logat sesuai dengan tenses dan bersumber dari hukum yang berlaku, ahh.. gaya gravitasinya juga harus diitung :v *apasih* haha. Intinya gue abis ulangan semester nih. Gila otak gue seminggu ini, ohh God. Full of ... bla bla bla wkwk. But, gue pengen ngepublish cerpen gue hahak :v 
Ayo baca, dan temukan apa yang ingin cerita ini sampaikan wkwk

Cumulonimbus
Lelah, iya lelah. Sakit, tentu saja. Cinta seperti apa yang tidak pernah merasakan lelah atau sakit?
Aku berbaring di lapangan berumput hijau nan segar yang terletak tepat di tengah sekolah. Tempat yang menjadi saksi bisu teriakan pori-pori siswa yang kelelahan memproduksi begitu banyak peluh dan gerutuan mulut-mulut yang tidak tahan dengan cuaca panas saat Pak Tejo memberikan amanat sebagai pembina upacara setiap hari senin pagi.
Aku melipat ke dua tanganku, lalu aku meletakkan kepalaku di atasnya. Sungguh nyaman rasanya berbaring sambil menatap langit Tuhan seperti ini. Haaah, aku menghela nafas panjang.
“Coba tebak, apa bentuk awan hari ini?”, ucapku memulai percakapan dengan seseorang yang berbaring di sampingku.
Ternyata masih ada sisa sinar matahari pada sore itu, sehingga membuatku harus menutup mata sedikit saat mencoba melihat wajah seseorang itu.
“Bukankah semua awan bentuknya sama?”, sahutnya.
Yang aku lihat hanya gerakan bibirnya saat ia mencoba menjawab pertanyannku. Sinar matahari ini, benar-benar!
“Aku rasa kau salah.”, kataku sambil melihat ke arah awan di langit itu lagi. Pergerakan awan itu, aku mengamatinya. Sedikit demi sedikit berjalan tanpa tahu ia akan berhenti di mana. Tanpa tahu untuk siapa ia berjalan begitu setianya sampai sekarang.
“Kalau aku salah, apa buktinya?”, tukasnya.
Sepertinya ia sedang mencoba mengujiku sekarang, aku rasa.
“Kadang terlihat seperti cirrus yang aku yakini permukaannya sangat halus dan lembut. Kadang juga seperti cirrocumulus yang memiliki waktu yang singkat karena harus bergantian dengan bentuk awan lainnya. Atau juga.. altostratus. Halus berwarna abu-abu gelap.”, kalau sudah seperti ini Rian hanya menutup matanya sambil mengangguk-angguk tanpa menghadap ke arahku.
Itu memberi isyarat bahwa, ia bosan dengan cerita dan filosofi-filosofiku tentang awan. Yah, benar saja. Tali persahabatan yang sudah terkait selama kurang lebih 3 tahun ini memang kebanyakan dipenuhi oleh cerita-ceritaku, terutama tentang awan.
“Lalu, apa bentuk awan hari ini?”, Rian bertanya lagi.
Apa mungkin ia mulai tertarik dengan cerita tentang awan?
“Emm.. mungkin.. altocumulus. Soalnya bentuknya lebar dan bergulung-gulung gitu.”, jawabku dengan jari telunjuk menunjuk ke salah satu awan yang terpasang di atas sana.
“Haha. Sebenarnya kamu itu lucu dengan semua pikiranmu yang terlihat kuno namun intelek. Sosiolog, psikolog, filsuf, aku rasa semua pekerjaan cocok untukmu.”, ucap Rian sambil melihat ke arahku.
Ke dua mata yang menatapku itu, desahan nafasnya yang ku dengar, bibirnya yang selalu mengucapkan kata-kata yang membuatku selalu merasa nyaman, dan wajahnya yang seakan bersinar. Kenapa denganku ini?
Angin mendesir. Beberapa daun akasia yang menguning jatuh dari pohon yang ada di pojok lapangan tengah sekolah.
“Oiya, ada sesuatu nih yang mau aku kasih ke kamu.”, ucap Rian seraya berdiri, sejenak mencoba menyeimbangkan tubuhnya lalu berlari ke arah kelas kami.
Ia seperti memanggil seseorang, Aku mengerutkan alis kemudian menggigit bibir bawahku, mencoba berpikir apa yang sebenarnya ingin Rian lakukan. Tak lama, beberapa teman-teman sekelas kami ke luar dari kelas dan berjalan ke arahku. Kali ini, aku mulai bingung. Aku memposisikan tubuhku untuk duduk sambil menatap dengan setumpukan rasa ingin tahu apa yang sebenarnya ingin Rian dan mereka lakukan. Mereka berdiri mengelilingiku. Masing-masing mereka membawa kertas putih agak besar di tangan kanan mereka.
“Aku.. memang tak mengerti apa itu awan dan filosofi-filosofinya. Tapi, yang terpenting adalah aku mengerti dirimu. Selamat ulang tahun!”, itulah rangkaian kata indah yang tertulis pada masing-masing kertas yang dipegang oleh teman-temanku.
Aku tersenyum seraya berdiri, masih di tempat di mana aku duduk tadi. Kemudian, tangan kiri mereka diangkat ke atas secara bersamaan. Mereka memegang balon yang berwarna-warni itu lalu menerbangkannya. Aku melihatnya, namun rasa bahagia itu susah sekali untuk diperlihatkan. Apa yang sedang aku pikirkan? Tak lama, seseorang dengan langkah kakinya yang lebar itu berjalan ke arahku membawa sebuah kue yang terlihat indah dan lezat berhias lilin-lilin kecil menghiasi permukaannya.
“Selamat ulang tahun, Nadya! Maafnya kejutannya cuma sederhana. Hehe. Dari sahabatmu yang paling mempesona, Rian.”, candaannya membuatku sedikit tertawa.
“Iya nih, Nad. Padahal aku sudah ngomong ke Rian buat kejutannya lebih bagus lagi. Tapi, ya kamu tahu sendiri Rian gimana orangnya. Keras kepala. Hehehe.”, seseorang muncul dari balik punggung Rian mencoba menimbrung percakapan antara aku dan Rian.
Rian tersenyum ke arahnya. Semakin sulit saja mengulas senyum padahal situasinya cukup membuat hati bahagia. Aku menunduk sambil berdoa penuh harap. Kemudian, aku meniup lilin-lilin kecil itu berharap semua harapanku terbang bersama angin dan sampai ke Tuhan. Lalu, aku menangis. Entahlah, menahan perasaan seperti ini selama 3 tahun begitu sulit. Sangat menyakitkan dan menyesakkan. Aku tahu tak seharusnya mempunyai perasaan ini, terutama karena Rian sudah punya Diana dalam hubungan kurang lebih 1,5 tahun. Lalu bagaimana aku? Apa yang harus aku lakukan dengan perasaanku ini?
Aku tak memperdulikan tangan Rian yang pegal karena memegang kue. Aku hanya ingin memeluknya, mungkin setelah ini aku akan merasa malu sehingga tidak ada waktu lagi untuk ku memeluknya atau bahkan bercanda dengannya tanpa beban seperti saat aku dan dia menghabiskan waktu bersama.
Tuhan, sejak awal aku sudah tahu perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang malah akhirnya menjadi belenggu hitam bagi hidupku. Namun, izinkanlah perasaan ini tetap mengalir seperti apa adanya. Setidaknya, sampai perasaan ini akhirnya menghilang dengan sendirinya. Mencintai sahabat sendiri itu, ibarat ingin menerjang awan cumulonimbus. Harapan-harapan yang semula berjalan dengan baik, akan mendapat banyak rintangan di sini. Hujan lebat, petir, bahkan badai. Dan kebanyakan harapan itu akhirnya hancur. Harapan bahwa suatu saat ia memiliki perasaan yang sama denganku, mungkin akhirnya akan menjadi salah satu dari kebanyakan harapan itu. Hancur.

Kamis, 07 Mei 2015

SMA? 
Really?

Assalamualaikum wr. wb.

Ya Allah udah lama banget gak buka blog :) Kangen banget ya Allah wkwk. Alhamdulillah masih bisa buka sekarang hehe.
Apa kabar mblo? Baik-baik aja? Ohh apa status bbm udah gak available lagi? Udah ganti jadi nama orang? :v atau pura-pura busy biar keliatan gak jones jones banget? :v haha enggaklah yaa wkwk. Paleng cuma bio twitter sama status fb aja cukup. Loh -_-

Hey, udah lama banget wkwk. Gue sibuk banget haha. Bahkan mandi aja gue kadang-kadang lupa haha. Eh, gue pengen bahas apa ya kali ini.

Emm.. gak kerasa udah mau naik kelas 2 :) Alhamdulillah dan terima kasih banget buat Allah SWT. masih memberi aku umur sampek sekarang sampek waktu di mana aku ngetik sekarang ini :)
Nti naik kelas 2, terus naik kelas 3, terus kuliah, terus lulus jadi sarjana, terus dapet kerjaan, jadi orang sukses :D Aamiin ya Allah.

Eh, para manusia sekarang mau bahas apa nih?
SMA aja ya?
Kalo topiknya SMA itu kayaknya banyak banget hal buat diceritain. Lagian kan anak SMP abis UN, jadi kita cerita tentang SMA aja. Apa hubungannya sih -_- jomblo kerjaannya baper anjir wkwk.

SMA, waktu abis masuk SMP terus masuk SMA pernah ngerasa ada yang beda gak sih, Guys? Beda karena cowok-cowok di SMA lebih ganteng lebih ucul lebih hacep gitu? :v yahh itu salah satu dari sekian banyak alasan kenapa SMA dengan SMP itu beda wkwk.
Pernah gak kalian kebayang-bayang gini, pokoknya abis SMA aku harus masuk universitas favorit. Pernah gak? Pernah lah ya :v

Gue juga pernah kok ngerasain, dan sekarang gue pengen bagiin pengalaman gue ke kalian. Buat pelajaran aja sih ya guys, pelajaran buat apasih? Buat meminimalisir kesalahan yang akan terjadi di masa depan kita :)

Waktu itu, gue dalam kondisi yang galau banget super duper galau. Gak tau tiba-tiba gue unmood banget mau ngapa-ngapain. Terus tiba-tiba gue mikir gini, gue ini sebenernya bisa gak sih? Kok gue kayak gini-gini aja di SMA? Gue nih sebenernya berguna gak sih hidup? Kenapa sih kok hidup gue kayak gini? Gue bisa gak ya masuk universitas yang gue impiin? Gue bisa gak ya dapet beasiswa? Gue bisa gak ya ngebahagiain orang tua? Gue bisa gak ya jadi orang sukses? Kenapa sih mereka bisa padahal gue lebih baik daripada mereka? Kenapa sih mereka dapet segalanya padahal mereka gak kerja keras? Padahal mereka nyepelein semuanya? Sementara gue, gue yang selalu belajar.. kenapa gue? hiks hiks *Alunan lagu Raisa Apalah arti menunggu :v biar lebih meresapi cerita wkwk*

Ada yang pernah mikir salah satu di antara itu? Yuk kita bahas satu-satu guys :)

1. Gue ini sebenernya bisa gak sih?

Dua kata : PASTI BISA. Kenapa? Setiap manusia punya otak yang sama dengan komposisi yang sama dan pas *Berasa maka ciki cinta gue :v*. Harus yakin. Percuma kamu pinter tapi kamu gak yakin dengan dirimu sendiri. Justru dengan kalian bertanya seperti ini ke diri kalian, berarti kalian telah merendahkan diri kalian sendiri. We can do it, because we stronger than we think :) Stay postive! Look straightly!

2. Kok gue kayak gini-gini aja di SMA?

Hey, Guys perbedaan mendasar dari SMP dan SMA adalah di SMA kita bisa liat yang mana yang bener-bener yang mana yang cuma main-main. Ada loh anak yang sukanya dispen tapi nilainya tetep bagus, ada juga anak yang suka dispen tapi nilainya ancur semua. Kalian mau yang mana? Masa remaja indah yes. Prestasi juga yes. Kalo gak mau kayak gini-gini aja makanya berubah. Tapi inget, hasil dari perubahan itu butuh proses untuk terlihat kasat mata. Don't give up just because a thousand judges, still brave and stand by one reason only. You're parents :)

3. Gue bisa gak ya masuk universitas yang gue impiin?

Kayaknya ini masalah setiap pelajar SMA. Ya gak sih? Ada yang mau daftar UGM, UI, UNY, UNPAD, UNDIP, dan semua universitas yang bagus di Indonesia bahkan kalo bisa ke luar negeri. Mimpi boleh guys boleh banget :) Mimpi tinggi itu boleh banget, malah dianjurkan. Buat motivasi :) Seenggaknya walaupun mimpi kita gak terwujud, kita udah pernah memimpikan mimpi kita terwujud. Indah bukan? :v Konsep atau rencana atau target buat hidup kita itu emang dibutuhkan, tapi jangan terlalu memaksakan diri Guys. Hidup itu kayak mau gambar garis lurus pakek spidol di papan tulis, kita udah rencana buat garis lurus yang bagus eh pas udah selesai malah miring. Take it easy. Slow but sure :) It's better than you make yourself become curb.

4. Gue sebenernya berguna gak sih hidup?

Ada yang pernah nanya kayak gini ke diri kalian? Kalo ada, you're a such of stupid person. Kenapa kamu dilahirkan? Kamu dilahirkan di dunia ini dengan pengharapan bahwa kamu bisa memberikan perubahan kepada dunia dan lingkungan di sekitarmu. Bukan cuma jalan menuju kematian doang. Hey, dunia itu butuh orang-orang yang optimis. So, stop judges yourself! Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Kalo kamu aja nyalahin diri kamu sendiri, terus siapa yang mau mendukung? Rumput yang bergoyang? Ombak yang memecah batu karang?

5. Gue bisa gak ya bahagiain orang tua?

Sensitif banget ya kalo udah ngomongin orang tua, bawaannya melankolis mulu :v baper baper baper wkwk. Gini guys, bahagiain orang tua bukan hanya dengan kamu masuk universitas yang bagus terus jadi orang sukses terus bisa ngebayar mereka. Sekali lagi, perjuangan dan pengorbanan mereka gak bisa dibayar. Gak bisa disamakan dengan pembalasan apapun. Kamu tahu guys, bahkan hanya dengan kamu sekolah baik-baik, gak nakal, lurus-lurus aja dalam artian gak ke dunia yang gelap, orang tua udah bangga sama kamu. Bangga karena kamu bisa jaga diri. Zaman sekarang ini nyawa itu ibarat obralan di pinggir jalan tahu gak sih. Dikit-dikit pembunuhan, dikit-dikit begal, dikit-dikit pelecehan seksual. Kasih sayang antar manusia udah minim sekarang. Jadi hanya dengan kita menjadi anak yang baik-baik aja orang tua udah bangga guys :) Coba deh tanya ke mereka. Apa jawabannya?

6. Gue bisa gak ya jadi orang sukses?

Jawabannya : Sure, it can be! Bisa. Jangan takut. Semua orang bisa jadi orang sukses. Bahkan orang yang gak punya tangan dan kaki, gak bisa ngomong, gak bisa denger, mereka masih bisa jadi orang sukses. Caranya? Yang pertama adalah berpikir postif. Kerja keras itu mah masih gampang. Namun berpikir positif ini yang agak susah buat dibiasain. Kadang karena kita terlalu takut, kita gak mau mencoba. Takut kalah, takut malu, takut gak disangka pinter lagi sama temen, takut ini takut itu bla bla bla. Heloo guys, temen itu cuma tau kalo kamu pas lagi pinternya doang! Ih pinter ya dia, ihh lu udah gak sepinter yang dulu. Mereka yang ngomong kayak gitu, sebenernya mereka lebih rendah dari kita. Kalemin aja. Stay calm. Yang ke dua jangan mudah menyerah. Yang ke tiga doa. Yang ke empat kerja keras. Yang ke lima ambil tali terus bunuh diri kalo gak sukses sambil bilang "Tuhan gak adil!!" :v ehh enggak bercanda. Tuhan adil banget :) Adil banget. Yang ke lima adalah.. percaya.
Positive, Brave, Praying, Hardworking, Believing. Just it. Is it easy, right?

7. Kenapa sih mereka dapet yang mereka inginkan?

Jawabannya adalah ya biarin sih, tandanya usaha mereka lebih besar dari kita :v

Terus ada yang nanya.. padahal mereka gak pernah belajar? Nyepelein orang? Terus gimana?
Jawabannya :
Yakin? Yakin gak cuma liat covernya doang?

Orang-orang yang berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan adalah karena dia berusaha lebih besar dari orang-orang yang gagal di sekitar mereka. Mereka lebih serius. Full of fight sensation. Sedikit banget orang sukses tanpa usaha. Bahkan malah gak ada kayaknya. Karena keberhasilan butuh perjuangan. Kebahagiaan butuh pengorbanan. Kesuksesan butuh pengabdian. Dan keabadian butuh kepercayaan :)

Usaha keras tidak akan menghianati, kalau menghianati berarti usahanya belum keras ^^
So, Fighting!

Ini dulu deh buat hari ini. But, big thanks banget buat yang udah mampir ke blog gue yang agak aneh ini. Maklum yang punya juga *sensor* :v
See you again, keep fighting Guys. And Good evening :)

Oiye, tanggal 16 mei besok gue ultah nih? Ditunggu ucapan jam 12? :v Emang sapa yang mau ngucapin njis banget wkwk
Pai pai!~~