Cerita 2
Aku mendengar banyak berita tentangmu dari temanku. Tak sengaja di ruangan itu aku terus menatapmu. Menatap mata yang tak pernah menatap mata ini. Bahkan, desah nafasmu.. aku mampu merasakannya. Menyukai diam-diam lebih menyakitkan dibandingkan dengan menyatakan cinta namun ditolak. Sungguh.
Jika mata ini salah memandang, apa sebenarnya dirimu?
Jika memang benar desah nafas kita tak lagi sama, siapakah yang harus disalahkan?
Jika alunan cinta yang terkubur dalam lidah tetap tak bergeming,
Bagaimana aku mampu menyatukan noktah di bawah tajam sorotan matamu?
Jika air di bawah mata selalu mengembun di pipi,
Haruskah aku meminta orang lain untuk mengubahnya menjadi uap?
Jika helaian rambutmu yang termakan zaman terjatuh di lantai kesunyian,
Haruskah aku datang dan mengumpulkannya?
Jika debar ini bukan cinta,
Lalu semangat hidup tanpa nyawa ini berarti apa?
Jika yang kau lihat adalah dirimu,
Bagaimana aku dilihat olehmu?
Jika bayang-bayangmu adalah mataku,
Bagaimana mungkin bayangku adalah punggungmu?
Jika cintaku berarti ambisi buram yang tak berhaluan,
Segankah dirimu tetap berdiri di ujung jalan itu dan menutup mata untuk menungguku?
Aku pun hanya menundukkan kepala jika kau bertanya mengapa aku menyukaimu. Aku pun tak tahu persis bagaimana keadaan itu bisa terjadi. Hanya yang aku tahu adalah.. aku menyukaimu. Gayamu yang berantakan, dengan menggunakan headset itu, sungguh membuat jantungku seakan berhenti berdegup. Harmoni cinta mengalir begitu saja. Cinta atau suka?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar