Sabtu, 18 Oktober 2014

First cerpen

Pertama kalinya nih ngepost cerpen gue :) First impression banget hahay



LEWAT KALIMAT FAJAR
 Aroma mawar semerbak. Kabut-kabut menghilang di antara pepohonan. Sinar mentari menjilati sisa-sisa air yang menempel pada dedaunan. Asap kendaraan perlahan mulai mencampuri embusan angin segar nan sejuk ini, membuat atmosfer terasa penuh sesak dengan kesibukan para insan.
 Lala menyusuri koridor sekolah, berjalan dengan kepala merunduk serupa daun layu. Tubuhnya terasa seperti diambang hidup dan mati. Perlahan makin banyak peluh yang keluar dari pori-pori kulitnya. Sesaat sampai di depan perpustakaan, seseorang dengan kacamata hitam datang menghampirinya dengan senyum mengembang.
“Lala, selamat ya! Kamu masuk ke kelas Study Club lagi”, ucap orang itu.
“Oh, Tika. Iya. Thanks buat ucapannya”, jawab Lala pelan.
“Hmm. Kamu masuk kelas Study Club lagi, rasanya aku benar-benar iri sama kamu”, kata Tika.
“Hmm. Aku pergi dulu ya”, jawab Lala sambil menahan rasa sakit yang menggeluti tubuhnya itu.
Perlahan Lala berjalan menuju kelas yang sama sekali tidak ingin ia datangi. Ya, Lala sebenarnya tak pernah ingin masuk ke kelas itu. Kelas di mana hanya tersumpal dengan rasa egois dan tidak ada kata pertemanan di dalamnya. Kelas yang hanya terisikan dua puluh siswa peraih nilai ujian sekolah tertinggi di sekolah itu. Sudah setahun Lala ada di kelas itu. Sampai di depan pintu kelas Study Club, tubuh Lala terasa sudah tidak kuat lagi. Peluhnya semakin bercucuran tak keruan. Kepalanya benar-benar sakit.
“Ahh”, Lala tiba-tiba jatuh tak berdaya di depan pintu kelas itu.
Tidak ada yang memerhatikannya. Sayup-sayup Lala hanya melihat teman sekelilingnya hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ada yang peduli dengan Lala. Tapi sesaat, seseorang dengan rambut tertata rapi dan gigi berpagar behel berwarna hitam datang menghampiri Lala dengan wajah khawatir.
“Kamu enggak apa-apa?”, tanyanya pelan.
Mata Lala perlahan mengarah ke arahnya. Tetapi, penglihatannya terasa kabur.
“Ehm, bisa enggak.. kamu..”, Lala sulit sekali untuk mengucapkan sebuah kalimat.
“Ayo, aku antarkan kamu ke UKS”, ajak seseorang dengan badan agak tinggi itu.
Lala tak menjawabnya. Lala hanya mengikuti ajakannya.
“Malaikat”, ucap Lala dalam hati tentang seseorang yang menolongnya itu.
-----
 Lala mencoba membuka matanya. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggantung di pelupuk matanya, sehingga terasa susah sekali untuk membuka kedua matanya.
“Eh, kamu sudah bangun?”, tiba-tiba seorang guru datang menghampiri Lala.
“Iya, Bu Dona”, jawab Lala pelan.
“kamu cuma kecapekan saja. Makan yang teratur dan banyak istirahat”, kata Bu Dona.
“Ahh.. benarkah, Bu? Syukurlah. Padahal aku ngerasa seperti aku akan mati”, gumam Lala.
“Bu, aku mau kembali ke kelas. Terima kasih,Bu”, ucap Lala.
    Bu Dona hanya tersenyum sambil membiarkan tangannya dicium oleh Lala sekadar sebagai tanda perpisahan.
-------
“Ahh. Obat apa yang diberikan itu ya? Aku merasa sudah sehat sekarang. Eh, tapi siapa ya yang bawa aku ke UKS?”, gumam Lala bertanya-tanya.
 Lala berjalan menuju kelas. Sampai di depan pintu kelas, ia memberhentikan langkah kakinya. Dihirupnya aroma yang menyelimuti kelas itu. Lala sudah merasakan sebelumnya. Lala membuka pintu kelas itu. Lala melihat sekelilingnya. Heningnya kelas itu seperti menggigit gesekan meja dan lantai. Seriusnya wajah setiap siswa seperti menyibak suara bising yang ingin didengar Lala layaknya kelas siswa SMA seperti biasanya. Tak ada bau aroma kapur papan tulis, hanya dinginnya AC yang menyesakkan kelas itu. Lala berjalan menuju kursinya.
“Sebaiknya kamu jangan mengganggu kesunyian kelas ini”, ucap seseorang yang duduk di samping bangku Lala.
 “Daniel?”, Tanya Lala.
“Jaga mulutmu agar tetap diam”, jawab Daniel tanpa melihat ke arah Lala.
Tak ada kata yang terucap dari mulut Lala sekadar  merespon dinginnya ucapan Daniel. Lala sudah 1 tahun sekelas dengan Daniel, jadi Lala sudah cukup tahu seperti apa Daniel.
“Ahh.. benar-benar orang ini”, gerutu Lala pelan.
-----
Bel pulang sekolah berbunyi. Perlahan suara nyaring dering bel itu seakan menggelitiki gendang telinga Lala. Lala mencoba mengusap kedua matanya, mengusir sisa-sisa lelap yang masih menggantung di matanya.
“Kelas ini selalu pulang lebih cepat dari kelas-kelas lain. Tak ada larangan di kelas ini, bahkan enggak ada yang membangunkanku saat aku tidur. Ini mudah seperti yang aku pikirkan”, gumam Lala.
Ternyata Lala tidak sendirian di kelas itu, ada seseorang yang duduk di samping bangkunya. Seseorang dengan wajah serius tengah membaca buku yang dipegangnya.
“Daniel?”, sapa Lala menghampirinya.
Daniel tak merespon sapaan Lala.
 “Ahh. Benar-benar. Gimana caranya untuk menyelesaikan soal ini?”, gerutu Daniel.
“Sini aku bantu”, kata Lala.
 Lala langsung meraih pena yang ada di tangan Daniel.
“Memangnya ada yang menyuruh kamu untuk membantuku?”, ucap Daniel sinis.
“Apa?”, Tanya lala dengan wajah datar.
Daniel tak menjawabnya bahkan Daniel memalingkan wajahnya dari Lala. Lala benar-benar merasa kesal.
“Benar-benar menyebalkan”, pikir Lala dalam hati.
 Karena kesal, Lala meninggalkan Daniel sendirian di kelas. Bersama di kelas dengan orang yang sinis seperti Daniel, rasanya membuat dada Lala seperti sesak.
-----
Hari ini, sang mentari seperti enggan untuk bangun. Gumpalan-gumpalan hitam berlarian menenggelamkan awan putih. Langit menghamparkan warna hitam pekat. Bumi seperti menggigil dalam dingin. Tak berselang lama, gerimsi tiris mulai berkelahi dengan atap kelas Study Club itu.
“Hmm”, desah Lala sambil memandangi rinai hujan yang turun.
Tiba-tiba Pak Doni masuk ke kelas dengan membawa tumpukan kertas di tangannya. Membuat semua siswa bangun dari kesibukannya masing-masing.
“Pagi semua. Bapak ingin memberitahu hasil TO minggu lalu”, jelas Pak Doni.
Semua siswa merasa gugup.
“Nilai TO tertinggi ke dua adalah Daniel dan nilai TO tertinggi pertama di kelas ini adalah Lala, lagi”, ucap Pak Doni.
Daniel memandang Lala dengan tatapan sengit. Lala tak memperdulikan tatapan dingin Daniel.
“Baik, anak-anak. Hari ini Bapak akan mengadakan tes ingatan kalian tentang pelajaran yang kemarin. Masukkan semua buku kalian ke dalam tas”, pinta Pak Doni.
Tak ada keluh kesah yang terdengar di kelas itu. Semua mengikuti perintah Pak Doni tanpa ada desahan sedikit pun.
-----
Bel istirahat berbunyi. Lala menghela nafas panjang. Tiba-tiba, dengan wajah penuh kebencian Daniel menghampiri meja Lala.
“Kamu menyebalkan”, ucap Daniel dengan wajah datar.
Lala yang sejak kemarin merasa kesal dengan sikap Daniel, ia pun menjawab dengan nada agak tinggi.
“Ya memang benar. Aku menyebalkan. Hey Daniel, aku kira kamu itu orang yang pintar, ternyata aku salah. Bahkan, kamu enggak pantes ada di kelas ini”, sahut Lala geram.
Daniel mengepalkan tangannya. Rasanya seperti ada sesuatu yang mencabik hatinya. Akhirnya Daniel pergi meninggalkan Lala dengan rasa kesal. Selama ini, Daniel selalu menganggap Lala sebagai saingannya. Jadi, bukan hal yang aneh kalau Daniel sangat membenci Lala.
------
Bel pulang sekolah berbunyi. Lala berjalan keluar dari kelas untuk pulang. Sampai di depan perpustakaan, Lala bertemu dengan Pak Doni.
“Siang Pak”, sapa Lala.
“Ahh.. Siang, Lala. La, kamu bisa bantu Bapak?”, pinta Pak Doni.
“Apa, Pak?”, Tanya Lala penasaran.
“Tolong kamu cari beberapa buku di perpustakaan untuk Bapak jadikan referensi tentang materi aljabar”, kata Pak Doni.
“Baik,Pak”, jawab Lala.
Lala langsung melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Dicarinya buku tentang aljabar oleh Lala.
“Ahh.. Ini dia”, ucap Lala dengan senyum mengembang.
Lala langsung mengambil bukunya dan berjalan pergi dari perpustakaan untuk memberikan buku itu ke Pak Doni. Tetapi, tiba-tiba Lala mendengar sesuatu. Lala mencoba mendekati sumber suara itu. Lala terus mencarinya, ia merasa semakin dekat dengan sumber suaranya.
“Siapa itu?”, ucap Lala lirih.
Lala melihat seseorang yang tengah duduk bersimpuh dengan kepala menunduk dikelilingi buku-buku yang berserakan. Wajahnya basah bermandi bola-bola air dari matanya. Lala merasa takut untuk mendekati orang tersebut. Tapi, sesaat orang itu berbicara sesuatu.
“Apa? Enggak pintar? Enggak pantes?”, ucap orang itu.
Lala seperti mengenal suara itu.
“Daniel?”, ucap Lala.
Lala memberanikan diri mendekatinya.
“Dan... Daniel?”, sapa Lala pelan.
Daniel terkejut. Matanya yang merah menatap tajam Lala. Daniel berdiri dan mendekati Lala. Daniel berdiri tepat di depan Lala, membuat Lala merasa takut.
“Kenapa, Dan.. Daniel?”, ucap Lala.
“aku.. sangat susah untuk masuk kelas itu. Aku.. harus meninggalkan apa yang tidak ingin aku tinggalkan. Melakukan apa yang enggak mau aku lakukan. Dan, aku berjalan seperti aku ingin menemukan sesuatu padahal aku enggak tahu apa yang sebenarnya ingin aku temukan”, ucap Daniel dengan suara yang getir.
Lala tetap lesap dalam diam.
 “Apa pintar itu takdir?”, Tanya Daniel tiba-tiba.
“Daniel..”, jawab Lala dengan suara pelan.
 “Apakah menjadi seorang seperti aku itu takdir? Pintar itu takdir? Tak peduli matahari tepat berada di atas ubun-ubun, tak menggubris suara perut yang keroncongan, aku tetap tidak bergeming. Tidur terlambat di antara yang lainnya, tak peduli dingin menggurat tubuh, tak memandang kejora yang sudah tenggelam, aku tetap bertarung dengan buku-buku di antara suara jangkrik setiap malam.. Kalau seperti ini, apa kamu masih berpikir bahwa pintar itu takdir?”, Tanya Daniel.
“Daniel, kamu kenapa?”, ucap Lala dengan nada khawatir.
Daniel tidak menjawabnya. Daniel justru menangis. Daniel meletakkan kepalanya di bahu Lala. Lala terkejut. Lala hanya menepuk-nepuk bahu Daniel sekadar menenangkan perasaan Daniel yang sedang kacau.
“Maaf”, ucap Lala pelan.
Daniel mengangkat kepalanya.
“Maksudmu?”, Tanya Daniel penasaran.
“Melihat kamu selalu pulang paling telat dari yang lain, selalu pergi ke perpustakaan di jam istirahat, aku tahu apa yang kamu rasain. Tapi, apa dengan seperti itu kamu harus memiliki apa yang kamu mau?”, kata Lala.
 “Apa? ”, sahut Daniel.
Lala diam sejenak.
“Aku ingin sepertimu. Menjadi siswa paling pintar di sekolah dan dikenal sebagai orang yang baik dan ramah. Aku iri”, ucap Daniel.
 “Tapi ternyata aku salah. Kamu lebih mengerikan dari yang apa yang orang tahu tentang kamu”, ucap Daniel.
“Apa? Hey!”, sahut Lala dengan nada agak keras.
“Kenapa? Salah?”, jawab Daniel.
Tanpa mendengar jawaban Lala, Daniel pergi meninggalkan Lala.
“Hey! Kamu nyebelin banget sih. Ambisius, egois, sombong, arghh!”, teriak Lala.
Daniel memberhentikan langkah kakinya. Ia membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Lala lagi.
“Apa? Kenapa?”, ucap Lala.
“Aku menyesal sudah menolong kamu”, jawab Daniel seraya beranjak pergi.
“Apa maksudnya? Kapan dia pernah nolong aku? Huh!”, ucap Lala  dalam hati.
“Daniel! Bukan berarti kalau kamu sudah bekerja keras mendapatkan sesuatu maka kamu harus mendapatkannya”, teriak Lala kepada Daniel.
“Hmm”, gumam Daniel yang tetap berjalan meninggalkan Lala tanpa menjawab atau menengok ke arah Lala.
-----
Sang mentari perlahan tergelincir di ufuk timur. Rerumputan masih terlihat basah karena bermandi embun. Hari ini, langit menghamparkan warna biru yang sangat indah.
“La, kok masih pagi sudah ngelamun sih?”, tanya Pak Doni mengacaukan lamunan Lala.
“Oh, Bapak. Enggak kok, Pak”, jawab Lala mengelak.
Pak Doni hanya tersenyum.
Mungkin benar kata Pak Doni, Lala memang sering melamun akhir-akhir ini. Lala juga tidak tahu. Sudah seminggu ini, Daniel tidak masuk. Sebenarnya, Lala khawatir kalau kata-katanya waktu itu membuat Daniel tidak mau bertemu Lala sehingga Daniel tidak masuk sekolah.
“Ish, mana mungkin”, pikir Lala lagi.
“Baiklah, selamat pagi”, sapa Pak Doni ramah.
“Pagi”, jawab Lala dan teman-teman sekelas serentak.
“Anak-anak, jangan lupa minggu depan kita akan menghadapi ujian akhir semester. Tingkatkan belajar kalian”, ucap Pak Doni.
“Ahh, di mana Daniel ini? Seminggu lagi akan ujian akhir semester”, gumam Lala khawatir.
-----
Hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester. Hari ini, hanya berbalut gumpalan awan putih yang menghiasi langit biru. Sang mentari pun rasanya seperti tak tertarik untuk memberikan sinarnya sekadar menghangatkan bumi.
“Lala, apa kamu tahu di mana Daniel?”, tanya Pak Doni kepada Lala yang tengah duduk di kelas selagi menunggu bel ujian dimulai.
“Ehm, enggak, Pak”, jawab Lala pelan.
Lala semakin khawatir, sebenarnya apa yang terjadi dengan Daniel.
“Ahh, aku tahu Daniel bukan orang yang mudah menyerah seperti ini. Pasti dia datang hari ini”, ucap Lala menenangkan diri.
“Hey”, tiba-tiba seseorang datang menghampiri dan menyapa Lala.
Kepala Lala langsung mendongak.
“Oh? Daniel?”, ucap Lala kaget.
“Hmm. Terima kasih”, kata Daniel sembari senyum.
Lala tidak menjawab. Lala mengerutkan kedua alisnya, penasaran apa maksud Daniel berterima kasih.
“Kamu benar. Aku egois, ambisius, dan sombong. Kamu benar. Tapi, aku.. mencoba untuk berteman dengan otakku sekarang”, ucap Daniel.
Lala tersenyum. Daniel yang selama ini adalah orang yang dingin, sekarang tersenyum dengan lepas.
“Ahh, syukurlah. Iya sama-sama”, ucap Lala sambil tersenyum manis.
“Haish, kenapa aku bisa dengerin omongan gadis yang bawel kayak kamu ya?”, ledek Daniel.
Lala memasang wajah geram. Rasanya Lala ingin menjitak kepala Daniel.
“Eh tapi, maksud omongan kamu waktu itu apa?”, tanya Lala tiba-tiba.
“Apa?”, tanya Daniel sambil mengerutkan alis.
“Kamu bilang kalau kamu nyesel sudah menolong aku? Emang kapan?”, tambah Lala.
“Ahh, sebenarnya yang ngebawa kamu ke UKS itu.. aku”, kata Daniel.
“Hah? Benarkah?”, jawab Lala kaget dengan mulut menganga.
“Kenapa? Apa kamu enggak percaya?” , tanya Daniel.
“Hmm. Aku cuma bingung. Gimana bisa sifat malaikat dan evil bersatu dalam satu tubuh?”, jawab Lala sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Apa? Hey!”, sahut Daniel.
Sontak Lala langsung berlari. Daniel yang tidak terima langsung berusaha mengejar Lala.
“Hey, seharusnya kamu bilang terima kasih”, ucap Daniel seraya mengejar Lala.
“Terima kasih, Lala. Mungkin kalau enggak ada kamu, aku akan selalu menjadi debu yang akan pindah bila ditiup angin. Tapi, sekarang aku merasa aku adalah angin yang dapat menerbangkan debu. Terima kasih”, ucap Daniel dalam hati.
“Aku seneng ngeliat kamu senyum lepas kayak gini, Daniel”, ungkap Lala dalam hati.
-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar