Sabtu, 13 Juni 2015

Assalamualaikum Wr. Wb.
  
Hey, Guys! How's life? wkwk ciyee malem minggu :v ciyee yang galau gak punya pacar, ciyee yang galau gara-gara rapot udah kayak api.. merah semua isinya wkwk, ciyee yang nilai UN nya cuma beda koma. Haha :v

Udahh lupain aja #segek haha. Tonight, aseekk. Malem ini gue ngepost cerpen gue lagi nih. Yahh.. sebagai penghibur aja sih sapa tau nti lo orang jadi mood lagi gituu secara gue ini moodbooster ._. udah lupain. Langsung ajaa yaps!






SIMFONI KELABU
Dunia itu tidak adil. Kalimat itu merupakan kalimat yang sering terlontar dari mulut sebagian manusia yang merasakan keterpurukan dalam kenangan dan harapannya. Sebagian manusia itu selalu merasa sepi dalam dunia yang penuh sesak dengan ilusi ini. Hingga pada akhirnya, sebagian manusia memutuskan untuk menghilang. Menghilang tanpa ada satu orang pun yang tahu. Menghilang tanpa ada satu orang pun yang merasa kehilangan.
Aku berdiri kaku di depan kelas sendirian sambil menyaksikan panorama rinai hujan yang turun bercampur dengan kesiur angin. Dari pada menanggung teguran dari Bu Ratmi guru BK ku karena seragam yang dipakai berbeda dengan aturan yang telah ditetapkan dengan alasan seragamnya basah terkena hujan, lebih baik aku menunggu hujan reda.
Bisa saja aku menunggu hujan reda di dalam kelas, tetapi aku tak mau. Bukan karena aku takut atau karena kelas yang kotor ulah teman-temanku yang bermain kertas saat jam kosong itu, aku hanya tidak suka sendirian di dalam ruangan. Keadaan yang seperti itu akan membuatku berlagu tentang kenangan-kenangan itu.
Bukan kenangan tentang seseorang yang pernah kusukai, karena aku tidak pernah menyukai seseorang. Bukan juga kenangan tentang masa-masa kebersamaanku dengan sahabat, aku tak pernah mempunyai hubungan sedekat itu dengan orang lain. Hanya, itu adalah kenangan yang seakan membuat hatiku berteriak merintih sehingga aku menjadi seorang penyendiri yang enggan bergaul dengan orang lain sekarang.
Aku berjalan maju beberapa langkah. Tanganku menengadah mencoba menahan beberapa butir air yang terjun dari atap kelas itu. Sesekali aku berdehem melihat fenomena itu sambil mata mengerjap-ngerjap karena terkena desauan angin. Kemudian, aku mencoba menatap langit. Sungguh kelabu warnanya pikirku. Apa mungkin langit sedang bersedih? Apa mungkin gemuruh ini tanda bahwa langit sedang berontak? Apa hujan yang turun ini adalah air mata lelahnya?
“Hey!”, tiba-tiba ada seseorang yang menepukku dari belakang dan membuat jantungku seakan melonjak dari tempat tidurnya.
Segera aku menarik tanganku dari luncuran-luncuran air itu. Aku menoleh ke belakang. Sudah terdapat sosok yang menatapku dengan senyum yang lebar itu. Matanya yang bewarna coklat, rambutnya yang hitam dengan potongan gaya anak remaja gaul zaman sekarang, dan tubuhnya yang berpostur tinggi, sehingganya aku harus sedikit mendongak jika ingin melihat wajahnya.
“Kok sendirian sih? Nunggu hujan reda ya?”, tanyanya.
“Iya.”, jawabku singkat seraya berusaha mengulas senyum di wajahku.
“Eh, agak ke sini. Nanti kena hujan.”, ujarnya dengan tangannya langsung sigap menarik tanganku. Jadilah aku berdiri tepat di sampingnya.
“Kenapa belum pulang, Nar?”, tanyaku kepadanya berusaha menjalin kembali obrolan kami dan melupakan kejadian yang membuat bibirku kaku tadi.
“Belum. Dari tadi di perpustakaan. Bukan baca buku sih, cuma numpang tidur doang. Hehe.”, ucapnya yang seakan menghidupkan obrolan kami.
Kemudian suasana hening. Sekian lama kami kalut dalam keadaan diam. Mulut kami tetap rapat terkancing tak bergeming. Sesekali kami hanya beradu pandang lalu mengalihkannya ke deraian air hujan yang sepertinya turun semakin deras. Sepertinya Danar menikmati masa-masa menunggu seperti ini. Mungkin karena ada alunan musik dari headphone yang ia pasang di telinganya, atau mungkin karena ada aku di sampingnya?
Ahh mimpi saja aku, gumamku dalam hati.
“Apa kamu enggak bosan menunggu seperti ini?”, pertanyaannya memecah hening di antara kami. Suaranya terdengar sedikit parau.
“Tidak. Aku suka menunggu.”, jawabku dengan yakin.
“Ahh.. padahal kebanyakan orang enggak suka menunggu.”, tambah Danar sambil melihat ke arahku.
“Memang membosankan sih, tapi ada keyakinan dalam diriku bahwa dengan menunggu kita akan mendapat jawaban yang indah.”, tambahku tak mau kalah.
“Filosofi yang bagus.”, ucap Danar seperti mengiyakan jawabanku.
Aku hanya tersenyum, begitu pun Danar. Sepertinya waktu kami habis hanya untuk saling tersenyum begini saja. Tak apalah pikirku. Kemudian aku memalingkan wajahku ke arah awan yang dibelenggu warna hitam. Tiba-tiba, Danar memasangkan headphone nya ke telingaku. Membuatku harus menatapnya. Lagi. Membuatku harus mendongak demi melihat matanya yang berkantung hitam itu. Sepertinya ia kurang tidur akhir-akhir ini.
Aku diam saja. Aku pikir ia ingin memperdengarkan sebuah lagu ke gendang telingaku. Ternyata aku salah, tak ada alunan melodi di headphone itu. Hanya ada suara gemersik angin yang menggelitiki telingaku.
“Enggak ada musiknya gini?”, ucapku keheranan.
Sekali lagi, Danar memasang senyum di wajahnya seperti tak kenal lelah, mungkin sekalian sebagai senam mulut pikirnya.
“Memang enggak ada. Itu aku berikan untukmu.”, jawab Danar.
“Untuk apa? Aku tak suka mendengarkan lagu.”, tukasku sambil mengembalikan benda itu kepada Danar.
“Benda ini berguna untukmu untuk kamu berlari.”, tambah Danar lagi.
Aku menatap mata Danar. Lagi. Meraba-raba jawaban atas kebingunganku terhadap perkataan Danar.
“Cukup untuk menunggu. Sekarang waktumu berlari. Berlarilah untuk menemui apa yang kamu nantikan selama ini. Dapatkanlah dan jangan biarkan ia lepas. Pura-pura tidak mendengar cemoohan orang lain. Ya dengan ini.”, tambah Danar seraya memasangkan kembali headphone itu di telingaku.
Ucapan yang cukup membuatku tercekat. Pikiran berkecamuk di dalam benak, nanar tentang asa mulai terlihat dari mataku.
“Yah.. aku memang tidak terlalu dekat denganmu. Tapi yah.. kau harus tahu.. bahwa aku ini seperti.. entah mengapa aku seperti bisa memasuki ruang hati seseorang yang tertutup rapat dan jarang tersentuh itu. Tak terkecuali kamu. Aku melihat sepertinya kamu yang sekarang ini bukan kamu yang sebenarnya.”, kata Danar mencoba memberikan petunjuk agar aku bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang ia bicarakan.
Aku seperti tersandar terhadap dinding yang dingin kemudian tiba-tiba menjadi hangat tanpa alasan. Mataku berpendar. Angin dingin menyelimuti tubuhku.
“Nab, aku tahu kamu kuat kok. Aku memang enggak tahu persis masalah kamu itu apa, tapi ya.. intinya aku mau memberi tahu kamu bahwa.. kamu itu kuat lebih dari yang kamu bayangkan.”, ucap Danar dengan ke dua tangannya memegang erat bahuku.
Sekarang kami semakin dekat saja. Kami saling berhadapan.
“Nabilla! Nabilla! Nab…”, dari jauh terdengar teriakan namaku secara bergantian.
Aku membalikkan tubuhku dan mencari-cari asal suara itu. Terdapat 4 sekawanan yang berlarian di tengah hujan. Mereka seakan tak peduli dengan kemarahan Bu Ratmi nanti karena seragam yang mereka pakai sudah basah kuyup. Sesekali mereka melompat-lompat sambil bermain air yang turun dari langit itu. Mereka berhenti di hadapanku. Dengan nafas yang tersengal mereka menarik dan membiarkan tubuhku yang hangat menjadi dingin karena tertikam jarum-jarum air itu.
Aku sudah mengingatkan berkali-kali bahwa baju ini akan dipakai lagi besok, tetapi mereka tak mengindahkan perkataanku. Yasudahlah pikirku. Saat aku akhirnya terbuai suasana bersama mereka, aku melupakan sesuatu.
 “Kenapa?”, wajah Danar terlihat kaget melihatku berlari mendekatinya.
“Nih. Jagain ya. Tapi ingat, ini punyaku sekarang.”, ucapku sambil tersenyum seraya memasangkan headphone yang terpatri di kepalaku ke kepala Danar.
Aku berlari menemui mereka lagi. Kami berpelukan dan kami bercanda bersama. Kejadian ini membuatku berteman baik dengan hujan sekarang, aku tak sungkan berbagi cerita tentang nyanyian burung pipit yang kudengar setiap pagi kepadanya.
Ahh, aku hampir lupa. Aku ingin meralat ucapanku sebelumnya. Aku punya sahabat! Iya. Mereka yang bercanda bersamaku saat hujan itu, yang menjadi kekuatanku untuk mengenal dunia lebih dalam. Dan.. aku mempunyai seseorang yang aku sukai sekarang. Seseorang yang telah menyarankanku untuk tak selalu menunggu hujan reda, namun sesekali mencoba menerjangnya. Bukan dengan melawannya, melainkan dengan berbagi rasa bersamanya.
-SELESAI-


Hey, Guys! Dapet pelajaran gak dari cerpen gue? :D haha segek aja deng sebenernya wkwk. Cuma mau ngasih tau aja deh, mungkin juga kalian sering ngedenger kata-kata ini.
Kalo kata Om Mario nih, Guys. Jangan nunggu hujan reda, terjang aje. Kalo perlu menari di antara hujan, menarilah. Selagi bisa. Selagi kamu mampu melakukannya. Karena akan ada saat di mana kamu ingin melakukannya namun kamu sudah tidak bisa melakukannya. Ngerti kan, Guys? Oke selamat bergalau ria lagii wkwk
Bhayy! See you next time, Guys! Luff luff wkwk