CERPEN!
Hai, Guys! Apa kabar? Haha. Akhirnya gue masih bisa muncul lagi setelah berjuang keras melawan soal soal sulfur yang bercrustacea kemudian harus dibuat grafiknya dengan berbagai logat sesuai dengan tenses dan bersumber dari hukum yang berlaku, ahh.. gaya gravitasinya juga harus diitung :v *apasih* haha. Intinya gue abis ulangan semester nih. Gila otak gue seminggu ini, ohh God. Full of ... bla bla bla wkwk. But, gue pengen ngepublish cerpen gue hahak :v
Ayo baca, dan temukan apa yang ingin cerita ini sampaikan wkwk
Cumulonimbus
Lelah, iya lelah.
Sakit, tentu saja. Cinta seperti apa yang tidak pernah merasakan lelah atau
sakit?
Aku berbaring di
lapangan berumput hijau nan segar yang terletak tepat di tengah sekolah. Tempat
yang menjadi saksi bisu teriakan pori-pori siswa yang kelelahan memproduksi
begitu banyak peluh dan gerutuan mulut-mulut yang tidak tahan dengan cuaca
panas saat Pak Tejo memberikan amanat sebagai pembina upacara setiap hari senin
pagi.
Aku melipat ke dua
tanganku, lalu aku meletakkan kepalaku di atasnya. Sungguh nyaman rasanya
berbaring sambil menatap langit Tuhan seperti ini. Haaah, aku menghela nafas panjang.
“Coba tebak, apa bentuk
awan hari ini?”, ucapku memulai percakapan dengan seseorang yang berbaring di
sampingku.
Ternyata masih ada sisa
sinar matahari pada sore itu, sehingga membuatku harus menutup mata sedikit
saat mencoba melihat wajah seseorang itu.
“Bukankah semua awan
bentuknya sama?”, sahutnya.
Yang aku lihat hanya
gerakan bibirnya saat ia mencoba menjawab pertanyannku. Sinar matahari ini,
benar-benar!
“Aku rasa kau salah.”,
kataku sambil melihat ke arah awan di langit itu lagi. Pergerakan awan itu, aku
mengamatinya. Sedikit demi sedikit berjalan tanpa tahu ia akan berhenti di
mana. Tanpa tahu untuk siapa ia berjalan begitu setianya sampai sekarang.
“Kalau aku salah, apa
buktinya?”, tukasnya.
Sepertinya ia sedang
mencoba mengujiku sekarang, aku rasa.
“Kadang terlihat
seperti cirrus yang aku yakini
permukaannya sangat halus dan lembut. Kadang juga seperti cirrocumulus yang memiliki waktu yang singkat karena harus
bergantian dengan bentuk awan lainnya. Atau juga.. altostratus. Halus berwarna abu-abu gelap.”, kalau sudah seperti
ini Rian hanya menutup matanya sambil mengangguk-angguk tanpa menghadap ke
arahku.
Itu memberi isyarat
bahwa, ia bosan dengan cerita dan filosofi-filosofiku tentang awan. Yah, benar
saja. Tali persahabatan yang sudah terkait selama kurang lebih 3 tahun ini
memang kebanyakan dipenuhi oleh cerita-ceritaku, terutama tentang awan.
“Lalu, apa bentuk awan
hari ini?”, Rian bertanya lagi.
Apa mungkin ia mulai
tertarik dengan cerita tentang awan?
“Emm.. mungkin.. altocumulus. Soalnya bentuknya lebar dan
bergulung-gulung gitu.”, jawabku dengan jari telunjuk menunjuk ke salah satu
awan yang terpasang di atas sana.
“Haha. Sebenarnya kamu
itu lucu dengan semua pikiranmu yang terlihat kuno namun intelek. Sosiolog,
psikolog, filsuf, aku rasa semua pekerjaan cocok untukmu.”, ucap Rian sambil
melihat ke arahku.
Ke dua mata yang
menatapku itu, desahan nafasnya yang ku dengar, bibirnya yang selalu
mengucapkan kata-kata yang membuatku selalu merasa nyaman, dan wajahnya yang
seakan bersinar. Kenapa denganku ini?
Angin mendesir.
Beberapa daun akasia yang menguning jatuh dari pohon yang ada di pojok lapangan
tengah sekolah.
“Oiya, ada sesuatu nih
yang mau aku kasih ke kamu.”, ucap Rian seraya berdiri, sejenak mencoba
menyeimbangkan tubuhnya lalu berlari ke arah kelas kami.
Ia seperti memanggil
seseorang, Aku mengerutkan alis kemudian menggigit bibir bawahku, mencoba
berpikir apa yang sebenarnya ingin Rian lakukan. Tak lama, beberapa teman-teman
sekelas kami ke luar dari kelas dan berjalan ke arahku. Kali ini, aku mulai
bingung. Aku memposisikan tubuhku untuk duduk sambil menatap dengan setumpukan
rasa ingin tahu apa yang sebenarnya ingin Rian dan mereka lakukan. Mereka
berdiri mengelilingiku. Masing-masing mereka membawa kertas putih agak besar di
tangan kanan mereka.
“Aku.. memang tak
mengerti apa itu awan dan filosofi-filosofinya. Tapi, yang terpenting adalah
aku mengerti dirimu. Selamat ulang tahun!”, itulah rangkaian kata indah yang
tertulis pada masing-masing kertas yang dipegang oleh teman-temanku.
Aku tersenyum seraya
berdiri, masih di tempat di mana aku duduk tadi. Kemudian, tangan kiri mereka
diangkat ke atas secara bersamaan. Mereka memegang balon yang berwarna-warni
itu lalu menerbangkannya. Aku melihatnya, namun rasa bahagia itu susah sekali
untuk diperlihatkan. Apa yang sedang aku pikirkan? Tak lama, seseorang dengan
langkah kakinya yang lebar itu berjalan ke arahku membawa sebuah kue yang
terlihat indah dan lezat berhias lilin-lilin kecil menghiasi permukaannya.
“Selamat ulang tahun,
Nadya! Maafnya kejutannya cuma sederhana. Hehe. Dari sahabatmu yang paling
mempesona, Rian.”, candaannya membuatku sedikit tertawa.
“Iya nih, Nad. Padahal
aku sudah ngomong ke Rian buat kejutannya lebih bagus lagi. Tapi, ya kamu tahu
sendiri Rian gimana orangnya. Keras kepala. Hehehe.”, seseorang muncul dari
balik punggung Rian mencoba menimbrung percakapan antara aku dan Rian.
Rian tersenyum ke
arahnya. Semakin sulit saja mengulas senyum padahal situasinya cukup membuat
hati bahagia. Aku menunduk sambil berdoa penuh harap. Kemudian, aku meniup
lilin-lilin kecil itu berharap semua harapanku terbang bersama angin dan sampai
ke Tuhan. Lalu, aku menangis. Entahlah, menahan perasaan seperti ini selama 3
tahun begitu sulit. Sangat menyakitkan dan menyesakkan. Aku tahu tak seharusnya
mempunyai perasaan ini, terutama karena Rian sudah punya Diana dalam hubungan
kurang lebih 1,5 tahun. Lalu bagaimana aku? Apa yang harus aku lakukan dengan
perasaanku ini?
Aku tak memperdulikan
tangan Rian yang pegal karena memegang kue. Aku hanya ingin memeluknya, mungkin
setelah ini aku akan merasa malu sehingga tidak ada waktu lagi untuk ku memeluknya
atau bahkan bercanda dengannya tanpa beban seperti saat aku dan dia
menghabiskan waktu bersama.
Tuhan,
sejak awal aku sudah tahu perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang malah
akhirnya menjadi belenggu hitam bagi hidupku. Namun, izinkanlah perasaan ini
tetap mengalir seperti apa adanya. Setidaknya, sampai perasaan ini akhirnya menghilang
dengan sendirinya. Mencintai sahabat sendiri itu, ibarat ingin menerjang awan
cumulonimbus. Harapan-harapan yang semula berjalan dengan baik, akan mendapat
banyak rintangan di sini. Hujan lebat, petir, bahkan badai. Dan kebanyakan
harapan itu akhirnya hancur. Harapan bahwa suatu saat ia memiliki perasaan yang
sama denganku, mungkin akhirnya akan menjadi salah satu dari kebanyakan harapan
itu. Hancur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar