Sabtu, 30 Mei 2015


CERPEN! 
 
Hai, Guys! Apa kabar? Haha. Akhirnya gue masih bisa muncul lagi setelah berjuang keras melawan soal soal sulfur yang bercrustacea kemudian harus dibuat grafiknya dengan berbagai logat sesuai dengan tenses dan bersumber dari hukum yang berlaku, ahh.. gaya gravitasinya juga harus diitung :v *apasih* haha. Intinya gue abis ulangan semester nih. Gila otak gue seminggu ini, ohh God. Full of ... bla bla bla wkwk. But, gue pengen ngepublish cerpen gue hahak :v 
Ayo baca, dan temukan apa yang ingin cerita ini sampaikan wkwk

Cumulonimbus
Lelah, iya lelah. Sakit, tentu saja. Cinta seperti apa yang tidak pernah merasakan lelah atau sakit?
Aku berbaring di lapangan berumput hijau nan segar yang terletak tepat di tengah sekolah. Tempat yang menjadi saksi bisu teriakan pori-pori siswa yang kelelahan memproduksi begitu banyak peluh dan gerutuan mulut-mulut yang tidak tahan dengan cuaca panas saat Pak Tejo memberikan amanat sebagai pembina upacara setiap hari senin pagi.
Aku melipat ke dua tanganku, lalu aku meletakkan kepalaku di atasnya. Sungguh nyaman rasanya berbaring sambil menatap langit Tuhan seperti ini. Haaah, aku menghela nafas panjang.
“Coba tebak, apa bentuk awan hari ini?”, ucapku memulai percakapan dengan seseorang yang berbaring di sampingku.
Ternyata masih ada sisa sinar matahari pada sore itu, sehingga membuatku harus menutup mata sedikit saat mencoba melihat wajah seseorang itu.
“Bukankah semua awan bentuknya sama?”, sahutnya.
Yang aku lihat hanya gerakan bibirnya saat ia mencoba menjawab pertanyannku. Sinar matahari ini, benar-benar!
“Aku rasa kau salah.”, kataku sambil melihat ke arah awan di langit itu lagi. Pergerakan awan itu, aku mengamatinya. Sedikit demi sedikit berjalan tanpa tahu ia akan berhenti di mana. Tanpa tahu untuk siapa ia berjalan begitu setianya sampai sekarang.
“Kalau aku salah, apa buktinya?”, tukasnya.
Sepertinya ia sedang mencoba mengujiku sekarang, aku rasa.
“Kadang terlihat seperti cirrus yang aku yakini permukaannya sangat halus dan lembut. Kadang juga seperti cirrocumulus yang memiliki waktu yang singkat karena harus bergantian dengan bentuk awan lainnya. Atau juga.. altostratus. Halus berwarna abu-abu gelap.”, kalau sudah seperti ini Rian hanya menutup matanya sambil mengangguk-angguk tanpa menghadap ke arahku.
Itu memberi isyarat bahwa, ia bosan dengan cerita dan filosofi-filosofiku tentang awan. Yah, benar saja. Tali persahabatan yang sudah terkait selama kurang lebih 3 tahun ini memang kebanyakan dipenuhi oleh cerita-ceritaku, terutama tentang awan.
“Lalu, apa bentuk awan hari ini?”, Rian bertanya lagi.
Apa mungkin ia mulai tertarik dengan cerita tentang awan?
“Emm.. mungkin.. altocumulus. Soalnya bentuknya lebar dan bergulung-gulung gitu.”, jawabku dengan jari telunjuk menunjuk ke salah satu awan yang terpasang di atas sana.
“Haha. Sebenarnya kamu itu lucu dengan semua pikiranmu yang terlihat kuno namun intelek. Sosiolog, psikolog, filsuf, aku rasa semua pekerjaan cocok untukmu.”, ucap Rian sambil melihat ke arahku.
Ke dua mata yang menatapku itu, desahan nafasnya yang ku dengar, bibirnya yang selalu mengucapkan kata-kata yang membuatku selalu merasa nyaman, dan wajahnya yang seakan bersinar. Kenapa denganku ini?
Angin mendesir. Beberapa daun akasia yang menguning jatuh dari pohon yang ada di pojok lapangan tengah sekolah.
“Oiya, ada sesuatu nih yang mau aku kasih ke kamu.”, ucap Rian seraya berdiri, sejenak mencoba menyeimbangkan tubuhnya lalu berlari ke arah kelas kami.
Ia seperti memanggil seseorang, Aku mengerutkan alis kemudian menggigit bibir bawahku, mencoba berpikir apa yang sebenarnya ingin Rian lakukan. Tak lama, beberapa teman-teman sekelas kami ke luar dari kelas dan berjalan ke arahku. Kali ini, aku mulai bingung. Aku memposisikan tubuhku untuk duduk sambil menatap dengan setumpukan rasa ingin tahu apa yang sebenarnya ingin Rian dan mereka lakukan. Mereka berdiri mengelilingiku. Masing-masing mereka membawa kertas putih agak besar di tangan kanan mereka.
“Aku.. memang tak mengerti apa itu awan dan filosofi-filosofinya. Tapi, yang terpenting adalah aku mengerti dirimu. Selamat ulang tahun!”, itulah rangkaian kata indah yang tertulis pada masing-masing kertas yang dipegang oleh teman-temanku.
Aku tersenyum seraya berdiri, masih di tempat di mana aku duduk tadi. Kemudian, tangan kiri mereka diangkat ke atas secara bersamaan. Mereka memegang balon yang berwarna-warni itu lalu menerbangkannya. Aku melihatnya, namun rasa bahagia itu susah sekali untuk diperlihatkan. Apa yang sedang aku pikirkan? Tak lama, seseorang dengan langkah kakinya yang lebar itu berjalan ke arahku membawa sebuah kue yang terlihat indah dan lezat berhias lilin-lilin kecil menghiasi permukaannya.
“Selamat ulang tahun, Nadya! Maafnya kejutannya cuma sederhana. Hehe. Dari sahabatmu yang paling mempesona, Rian.”, candaannya membuatku sedikit tertawa.
“Iya nih, Nad. Padahal aku sudah ngomong ke Rian buat kejutannya lebih bagus lagi. Tapi, ya kamu tahu sendiri Rian gimana orangnya. Keras kepala. Hehehe.”, seseorang muncul dari balik punggung Rian mencoba menimbrung percakapan antara aku dan Rian.
Rian tersenyum ke arahnya. Semakin sulit saja mengulas senyum padahal situasinya cukup membuat hati bahagia. Aku menunduk sambil berdoa penuh harap. Kemudian, aku meniup lilin-lilin kecil itu berharap semua harapanku terbang bersama angin dan sampai ke Tuhan. Lalu, aku menangis. Entahlah, menahan perasaan seperti ini selama 3 tahun begitu sulit. Sangat menyakitkan dan menyesakkan. Aku tahu tak seharusnya mempunyai perasaan ini, terutama karena Rian sudah punya Diana dalam hubungan kurang lebih 1,5 tahun. Lalu bagaimana aku? Apa yang harus aku lakukan dengan perasaanku ini?
Aku tak memperdulikan tangan Rian yang pegal karena memegang kue. Aku hanya ingin memeluknya, mungkin setelah ini aku akan merasa malu sehingga tidak ada waktu lagi untuk ku memeluknya atau bahkan bercanda dengannya tanpa beban seperti saat aku dan dia menghabiskan waktu bersama.
Tuhan, sejak awal aku sudah tahu perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang malah akhirnya menjadi belenggu hitam bagi hidupku. Namun, izinkanlah perasaan ini tetap mengalir seperti apa adanya. Setidaknya, sampai perasaan ini akhirnya menghilang dengan sendirinya. Mencintai sahabat sendiri itu, ibarat ingin menerjang awan cumulonimbus. Harapan-harapan yang semula berjalan dengan baik, akan mendapat banyak rintangan di sini. Hujan lebat, petir, bahkan badai. Dan kebanyakan harapan itu akhirnya hancur. Harapan bahwa suatu saat ia memiliki perasaan yang sama denganku, mungkin akhirnya akan menjadi salah satu dari kebanyakan harapan itu. Hancur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar