Senin, 13 April 2015



FI.SE.JU

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Namun, mata ini seakan tak peduli dengan itu. Suara jangkrik yang bersahutan di antara deraian hujan, membuat suasana semakin pekat dan dingin. Sudah biasa. Itu sudah rutinitasku selama kurang lebih 2 tahun ini. Rutinitas yang membuat kantung mataku semakin menghitam. Rutinitas yang membuatku harus menjawab "Aku tidak apa-apa." setiap pagi saat teman-temanku bertanya "Apa kau baik-baik saja? Ada apa dengan wajahmu yang begitu pucat?". Ya, aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa tidur. Sesuatu yang selalu mengganjal hatiku membuatku merasa begitu sesak.

Aku mengambil ponsel yang berada di atas kasur. Mengetik sesuatu dengan wajah yang penuh harapan.
"Mbak?"

Aku anak yang ambisius, egois, tidak mau kalah, aku rasa semua hal buruk terdapat dalam diriku. Hingga pada akhirnya, seseorang dengan filosofinya tentang mimpi membuatku berubah. Ia membuatku percaya akan suatu hal.

"Kenapa, Dek? Belum tidur?"

Aku langsung menutup ponsel ku tanpa menjawab pesannya kembali.Tak perlu baju bagus untuk membuatku terlihat lebih menarik, tak perlu payung untuk membuat tubuhku tetap terjaga kehangatannya. Hanya perlu keyakinan untuk aku ke luar rumah pada saat itu juga.

"Mbak, aku di depan rumahmu sekarang."

Aku berdiri di depan rumahnya. Tidak ada matahari. Bahkan bulan dan bintang sungkan untuk menyembulkan wajah mereka sekadar membuatku merasa bahwa mereka mendukungku saat itu dengan sinarnya. Namun, ternyata tidak. Hanya kumpulan awan hitam dan langit yang gelap. Tak butuh waktu lama, ia ke luar dari rumahnya. Kami seperti dua titik berbeda yang membentuk suatu garis yang menghubungkan kami.

"Aku enggak tahu, harus ngomong dari mana. Bahkan aku juga enggak tahu kenapa aku bisa berdiri di sini sekarang. Mbak, aku ambisius. Aku egois. Aku enggak pernah mau kalah. Aku sombong. Bahkan aku merasa semua yang ada di diriku ini adalah keburukan. Tapi, ada yang harus Mbak tahu kalau aku sayang Mbak."

Dentuman keras yang setiap malam membuatku sesak, entah mengapa menghilang. Ini cinta pertama atau cinta sejati aku pun juga tidak tahu. Namun, ada dua hal yang aku tahu darinya. Dia adalah orang yang membuat hatiku berdegup, lidahku kelu, dan tangan gemetaran ketika bertemu dengannya. Satu hal yang terakhir. Dia lah mimpi nyata ku. 

Sesulit apa pun kehidupanmu, teruslah bermimpi. Meskipun mimpi itu tidak terwujud, setidaknya kau pernah membayangkan bagaimana mimpi itu terwujud.

Terima kasih atas filosofi mimpi yang kau berikan untukku dan.. terima kasih untuk menjadi senior yang selalu memberiku lolipop penghancur gundah itu. Sampai saat ini.

Note : 
Kalau lagi ngomongin cerita ini jadi inget lagu yang selalu dinyanyiin sama temenku waktu aku lagi galau enggak ditembak-ditembak.
Kalau cinta ya bilang cinta
Kalau sayang ya bilang sayang
Jangan ditunda tunda
Nanti diambil orang

@KampusFiksi #FiksiBuatPacarku 
Jujur itu dianjurkan wkwk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar