Jumat, 20 Maret 2015

APA SIH SEBENARNYA HIDUP ITU?

Selamat malam :)
Gue sekarang pengen ngasih semacam apa yaa.. ya perspektif gue tentang kehidupan sih. Gue nulis ini bukan semata-mata gue pengen ngeguruin, atau sok pinter, atau sok ngerti kehidupan, apalagi sok dewasa. Karena sekali lagi, gue ini masih imut-imutnya dan gue masih proses beranjak dewasa :v Sebenernya gue gak mau jadi dewasa, tapi mau gimana... life must go on wkwk.

Lanjut yaa..
Kata-katanya agak lebay sedikit gak papa lah ya, biar sekalian ngelatih gue :v *APAANSIH-_-*

Aku bersyukur, sangat bersyukur. Dilahirkan di dunia dengan kekuatan doa yang besar dari Ayah dan keteguhan hati dari Ibu. Sungguh hal yang sederhana namun membuat aku merasakan kebahagiaan yang teramat dalam. Aku tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Kami tidak disuguhi daging setiap hari, namun kami juga bukan hanya memakan garam setiap hari. Kami merasa cukup. Hingga pada akhirnya, sesuatu terjadi di keluarga kami. Masalah yang membuatku seperti menjadi dewasa sebelum waktunya. Bukan perilakunya yang dewasa, namun tingkat pemikiranku. 

Saat itu aku masih kelas 6 SD dan saat masalah itu terjadi aku masih menghadapi US. Sungguh aku tak tahu apa yang sedang terjadi dengan diriku pada waktu itu. Aku tak terlalu melihat ada perubahan dalam diriku setelah masalah itu. Tapi aku merasakan diriku berbeda. Bukan wajahnya, bukan juga bentuk tubuhnya. Bukan cara berbicara, bukan juga caraku berjalan. Hanya.. sesuatu yang membuatku terus merasa takut. Aku tersungkur sendirian. Tak pernah terucap kata dari balik bibirku untuk berkata kepada ayah atau ibu "Yah, Bu, aku lelah." saat aku merasa hidupku terlalu berat. Atau berkata "Yah, Bu, bantu aku." saat aku merasa seperti diambang kematian.

Ya, aku adalah anak yang keras kepala. Anak yang pemberontak. Suka membantah namun goyah akan pendirian, sehingga aku sering terombang-ambing saat berusaha mencari tepian untuk istirahat sejenak dari perjalanan yang panjang ini. Dari awal, aku sudah menyadarinya. Ada yang salah dari diriku. Aku mencoba berlari, berlari dan terus berlari. Seakan mencari diriku yang hilang. Saat aku mengalami proses tersebut, aku mencoba untuk beristirahat sejenak. Menatap langit biru, membuka tanganku lebar-lebar, menghela nafas, lalu berteriak "Tuhan, di mana kau sebenarnya?". Kemudian aku menutup mataku. Berharap ketika aku membukanya kembali, aku akan melihat Tuhan. 

Ketika aku masih menutup mataku, aku berkata dalam hati.

"Tuhan, bantu aku. Aku tidak mungkin menangis meminta pertolongan di depan orang tuaku sementara mereka sedang bersusah payah menghidupi aku dan saudaraku. Tuhan, lindungi aku. Aku tidak mungkin meminta orang tuaku untuk melindungiku sementara tangan mereka sibuk menjaga api untuk menghangatkan tubuhku dan saudaraku tanpa mereka memeluk kami. Tuhan, dengarkan aku. Aku tidak mungkin bercerita kepada orang tuaku tentang teman yang nakal di sekolah, nilaiku yang turun, atau cerita patah hati anak remaja yang sudah basi sementara mereka harus menggunakan telinga mereka untuk mencari informasi di mana mereka mampu mendapatkan sesuatu yang bisa membuat kami berharap sesuatu tersebut dapat membuat kami lebih baik. 
 Tuhan, aku tahu seberapa jauh aku berlari, seberapa banyak peluh yang ke luar, seberapa lelah kakiku, aku tidak akan menemukan-Mu. Tapi Tuhan, setidaknya berikanlah aku kesempatan untuk bertemu denganmu di dalam mimpi. Apabila itu tidak mungkin juga, izinkanlah aku mendengar suara-Mu. Apabila itu tidak mungkin juga, setidaknya peluk aku. Apabila itu tidak mungkin juga Tuhan, izinkanlah aku selalu berada di sisi-Mu. Berikanlah keluargaku ruang untuk bernafas."

Kemudian, aku membuka mataku. Tak ada yang berubah, semua sama. Tak ada yang berbeda, semua masih pada tempatnya. Angin menggelitik gendang telingaku. Seakan angin tersebut menyampaikan pesan dari Tuhan untukku. Namun, aku tak mampu mengartikannya. Setelah ini, apa yang harus aku lakukan? 

Hari demi hari, aku masih disibukkan dengan pertanyaanku itu "Apa yang harus aku lakukan?" 
Hingga akhirnya, aku menemukan sebuah titik terang. Di titik di mana terdapat banyak sinar yang entah dari mana. Dan di antara sinar itu, terbentuk tubuh dan wajah yang menyerupai diriku. Aku seperti melihat diriku di depan mata tanpa harus bercermin. 
"Siapa kamu?" aku mencoba bertanya.
"Aku adalah kamu.", diriku menjawabnya.
"Di mana kamu?", aku bertanya lagi.
"Di tempat yanng paling kamu inginkan untuk berada di sana.", jawab diriku lagi.
Kemudian aku berpikir, memang aku ingin ke mana?
"Tempat apa yang aku inginkan?"
"Tempat yang selalu berada di pikiranmu."
"Apa yang ada di pikiranku?", aku semakin ingin tahu tentang diriku sendiri.
"Apa yang ada di pikiranku."

Kenapa dia justru bertanya balik?
Belum lagi aku selesai bertanya, titik terang itu menghilang. Sekarang, aku merasa seperti aku sedang tidak di mana-mana. Semua terlihat semua. Aku berputar ke kanan lalu ke kiri. Mencoba mencari jalan ke luar dari sana. Namun tak terlihat ada pintu atau tanda apa pun agar aku bisa ke luar. Lalu, aku menutup mataku. Ini tidak nyata. Ini tidak nyata. Kemudian, aku membuka mataku.
Terdapat cermin di depanku sekarang.
"Siapa kamu?", entah apa yang sedang ada di pikiranku.
Cermin pun memperlakukan yang sama denganku, bertanya siapa kamu kepadaku.
"Di mana kamu?"
Cermin pun menirukan di mana kamu.
Aku mengulang pertanyaan yang sama seperti yang aku tanyakan kepada diriku yang tadi. Hingga pada akhirnya aku mengingat sesuatu.
Ada satu pertanyaan yang belum terpecahkan, "Apa yang ada di pikiranku?"
Aku mulai memikirkannya. Diriku yang ada di titik terang dan diriku yang ada di cermin menjawab dengan mengulang pertanyaanku.
Apa maksudnya?

Deraian sinar membuat mataku tergiur untuk membuka. Tirai kamarku dibuka oleh Ibu, dan seketika itu aku menyadari bahwa.. apa yang aku rasakan tadi ternyata mimpi. Kemudian aku berjalan ke ruang makan, tanpa air sekadar membilas wajahku, tanpa sisir untuk merapikan rambutku. Aku langung mengambil gelas lalu menuangkan air lalu meneguknya.

Di sana, terlihat ada Ayah, Kakak, dan Adikku. Aku menatap mereka satu-satu. Apa yang ada di pikiranku? 
Aku mengerti. Sekarang aku mengerti. Itu jawaban dari Tuhan. Tuhan mendengarku! Tuhan menjawabku! Tuhan tidak hanya menjawab pertanyaanku, Tuhan membuatku seakan bertemu dengannya! 
Apa yang ada di pikiranku, itulah jawabannya. Semua yang aku tanyakan, jawabannya ada di setiap apa yang aku pikirkan. Bukan pikiran dia, bukan pikiran mereka. Melainkan pikiranku.

Haha, alay ya Guys? Kalian ngerti gak apa yang sebenernya pengen aku kasih tau ke kalian? Gak nyambung ya? Bahasa ku jelek banget ya T.T Yaudah gak papa deh gue ambil kesimpulan aja biar gak pusing hehe.

Kesimpulannya Guys, kita berada di dunia, berarti kita telah hidup. Kalo kita hidup, berarti ada sesuatu yang menjadi dorongan agar kita menjadi hidup.
Apa dorongan itu?
Berupa pengharapan sesuatu yang lebih baik akan terjadi ketika kita muncul di dunia.
Kapan dorongan itu?
Setiap waktu dorongan itu ada untuk membantu kita menemukan diri kita sendiri dan mulai membantu orang lain menemukan diri mereka juga.
Di mana dorongan itu? Di hati kalian masing-masing.
Siapa pendorong dorongan itu? Diri kalian masing-masing.
Bagaimana dorongan itu? Dorongan itu berupa cita-cita, harapan, keinginan, perwujudan kecintaan terhadap Tuhan, dan segala hal yang menyangkut kehidupan kita.

Jadi, Guys. Jangan pernah menganggap diri kalian tidak ada gunanya. Jika kalian sudah dilahirkan di dunia ini, artinya dunia membutuhkan kalian. Dunia tidak mau menampakkan wajahnya jika ia benar-benar membutuhkan kalian, dunia memang keras kepala. Lalu, bagaimana mengatasinya? Dengan selalu bekerja keras tanpa menyerah. Dunia memang kejam, Guys. Namun dunia sangat menghargai perjuangan :') Percayalahh. Dunia tidak sekejam itu jika kamu percaya dunia itu tidak kejam :D

Buat semua khususnya pelajar remaja di dunia terutama di Indonesia, masa remaja memang cuma sekali. Bahkan ada yang bilang masa yang gak tergantikan. Masa yang harus diisi dengan kesenangan. Namun apa salahnya jika menyisihkan waktu sedikit untuk sekadar menengok ke bawah? Menerapkan arti mahluk sosial di kehidupan kita. Apa salahnya sekadar menengok ke kanan? Menerapkan prinsip kehati-hatian saat berjalan apakah jalan yang kita tempuh sudah benar atau belum. Apa salahnya sekadar menengok ke kiri? Mengambil pelajaran dari orang-orang yang mengalami kegagalan untuk dijadikan sebagai sebuah dorongan agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama seperti mereka. Melihat ke atas? Bukan berarti melihat orang yang lebih tinggi dari kita namun mencoba melihat langit. Apa artinya? Bersyukur.

Oke Guys, sekian ajalah ya kayaknya gue ngomong kepanjangan wkwk. Gak papalah lagi pengen haha.
Buat yang jomblo, selamat malam ya :v ciye ada yang ngucapin haha.
Bukan yang taken, semoga cepet putus ya :v *loh, eh maksudnya semoga langgeng ya haha.
Buat mahluk yang gak taken dan gak jomblo, gue.. berharap gak ada ya :v hahak
Okee good bye all :) S.H.M.I.L.Y

Tidak ada komentar:

Posting Komentar